Hari ini kita mengenang 4 orang Martir SVD dari Polandia: Ludovikus, Stanislaus, Aloisius dan Gregorius. Nama mereka selalu disebut dalam doa harian di buku Vademecum. Pada perang dunia ke- II, NAZI Jerman membunuh 108 orang kaum hidup bakti dalam Gereja Katolik: 3 uskup, 52 imam, 26 bruder, 3 seminarian, 8 suster biarawati, 9 orang awam. Para pahlawan iman ini dibeatifikasi oleh Yohanes Paulus II pada tanggal 13 Juni 1999 di Warsawa, Polandia. Beato Gregorius menjadi pusat perhatian kita dalam liturgi hari ini. Siapakah Gregorius?. Dalam kisah kelahirannya, FRACKOWIAK diberi nama baptis GREGORIUS, dalam Bahasa YUNANI artinya “WASPADA” atau “SIAGA”. Nama “Gregorius” berasal dari akar kata “egeiro” (Yunani) berarti “membangunkan” atau “membangkitkan”. Dalam Bahasa Latin, “Grex” artinya “kawanan”. Jadi, “Gregorius” artinya kewaspadaan, kesiapsiagaan; kawanan dalam persekutuan; perhatian dan kemampuan “membangunkan” dan “membangkitkan” sesuatu. Gregorius, sebuah nama, seorang pribadi, pribadi heroik. Setiap nama, sebuah kehadiran, sebuah kisah sejarah. Setiap nama, ketika disebut, terkoneksi semacam anjungan dalam kunjungan singkat antara memori tua masa silam dan memori hari ini, meninggalkan kesan yang sangat dalam, di dalam kebersamaan. Misa malam ini membantu kita menjaga memori hidup sepanjang zaman akan sebuah nama, seorang pribadi: Gregorius. Perayaan malam ini, penting untuk menjaga jati diri, dan memperkuat kesatuan kita sebagai rekan dari satu bapa pendiri: SVD, SSpS, SSpSAP, termasuk para cucu: PRR, CIJ, Maranatha dan Soverdian, kita bersiaga dalam memori yang sama akan satu nama, Gregorius. Menceritakan kembali kisah sejarah kemartiran Beato Gregorius dkk pada dunia ke-II, dalam Triduum dan dalam Ekaristi malam ini adalah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kasih karunia-Nya, dalam cara kita, di sini, malam ini untuk sebuah nama yang menjadi pelindung komunitas Biara. Perayaan akbar malam ini, tidak sekedar mengenang, melainkan untuk menjaga memori kita tetap hidup akan nilai kemartiran yang diwariskan seorang saudara dalam serikat. “Grex” (latin), Gregorius artinya ‘kawanan’. Gregorius telah bersama teman-teman martirnya, menjadi satu kawanan mati, mati karena kasih akan Kristus. Gregorius benar-benar menghayati arti namanya yakni “siaga”, siap mati demi membebaskan sekawanan bapak keluarga. Yesus mati untuk menebus semua orang dari Dosa, Maximilian Kolbe Mati untuk menggantikan seorang bapak keluarga dan Gregorius mati untuk menyelamatkan 100 kawanan karyawannya di percetakan. Gregorius telah menjadi biji gandum yang mati. Yesus berkata, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja’ tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Kalimat ini mudah dimengerti oleh setiap petani dan oleh kita masing-masing. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Itulah Maximilian Kolbe, Ludovikus, Stanislaus, Aloisius, Gregorius dan barisan martir lainnya yang berjumlah 108 orang. Mereka telah memperagakan secara sempurna dalam kesaksian hidup mereka, firman penebusan Yesus, Sang Guru ilahi yang mereka imani selama hidup sebagai imam, religius-biarawan dan misionaris SVD yakni mati, mati demi keselamatan sahabat-sahabatnya. Nuansa Heroik dalam perayaan malam ini sekaligus menantang semangat kemartiran kita, ‘beranikah kita seperti Gregorius dkk”: Mati bagi sahabat-sahabat dalam cara kita hari ini?. Gregorius sebuah nama yang dikenang serentak ‘membangunkan’ dan ‘membangkitkan’ kesadaran kita untuk selalu waspada dan bersiapsiaga menyongsong kedatangan Tuhan menjemput kita pada suatu waktu. Sikap waspada dan siap sedia mesti menjadi sikap kita para kawanan sebagai persekutuan dalam kebersamaan di komunitas biara dan di rumah keluarga. Doa bersama, misa bersama, makan bersama, rekreasi bersama, bekerja bersama, mete bersama jaga kawan yang sakit, main kartu bersama, itulah cara kita menghayati arti nama Gregorius di komunitas kita sebagai kawanan dan persekutuan. Arti nama Gregorius merupakan simbol persekutuan satu kawanan, dan di situlah Gregorius hadir bersama kita. Dalam kebersamaan sebagai satu kawanan, Gregorius mengingatkan kita agar selalu “waspada”, dan “siap siaga” dalam doa dan misa harian untuk mengurai rintangan zaman yang datang dalam aneka wajah. Gregorius membawa kita pulang ke peristiwa melankolis taman Getzemani, dengan Sabda Yesus, dia mengingatkan kita sesuai arti namanya ‘Gregorius’ yakni ‘membangunkan’ dan ‘membangkitkan’ kesadaran kita untuk tetap waspada dan berjaga-jaga dalam doa.
Kisah kemartiran Gregorius mengajarkan kepada kita bahwa kebesaran tidak terletak pada jabatan dengan gelar segudang, ketenaran, uang dan kekayaan melimpah – melainkan pada nilai pengorbanan diri. Gregorius sering hadir dalam diam dan membiarkan tindakan-tindakannya memperlihatkan nilai dari kedalaman dirinya melalui perhatian, kepedulian, keberanian, dan ketulusan sesuai arti namanya. Orang yang rela mengorbankan hidupnya demi kebaikan bersama, menunjukkan kedalaman nilai yang tak bisa diukur dengan angka dan pujian. Pengorbanan selalu bersifat heroik atau monumental. Kadang ia hadir dalam bentuk waktu yang diberikan, perhatian yang dibagikan, keputusan sulit yang diambil demi kebaikan orang banyak. Gregorius seorang bruder yang bekerja di bidang media percetakan. Sudah pasti dia membaca banyak buku, pamflet, majalah. Buku-buku yang dia baca ibarat benih yang ditanam dalam pikiran. Setiap halaman yang diserap mempengaruhi cara berpikir, nilai hidup dan keputusan yang dia ambil untuk mati. Tak disangka pengetahuan dan perspektif baru yang dia baca dari buku perlahan membentuk kepribadian dan cara dia memandang dunia, termasuk pemberian makna atas kekejaman Nazi di waktu itu. Seperti makanan untuk tubuh, buku adalah “makanan” untuk jiwa dan akal (ratio et intelectus). Membaca buku inspiratif selalu memberi motivasi, sementara buku-buku berat melatih orang berpikir kritis. Semakin beragam dan berkualitas bacaan seseorang, maka semakin kaya pula sudut pandang yang dia miliki dalam menghadapi dan mengurai kehidupan yang sarat tantangan. Setiap buku yang dia baca adalah investasi untuk versi terbaik bagi dirinya di masa depan. Karena itu, pemahaman dan kedalaman berpikir Gregorius, sangat ditentukan oleh apa yang dia dapatkan dari bacaan. Buku memberi dia pencerahan untuk belajar, merefleksi dan terbuka terhadap perspektif baru. Membaca bukan suatu aktivitas mekanis, melainkan interaksi isi tulisan dan kesiapan batin dan intelektualitas si pembaca. Kesadaran mental dan kerendahan hati Gregorius, dibentuk oleh semangatnya membaca dan belajar. Kehadirannya mencerminkan kebijaksanaan dan wawasan intelektualnya yang dalam. Keputusan memilih mati merupakan bukti dari sinergitas kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritualnya, juga bukti dari kesetiaan akan janji seorang pekerja media (sumpah seorang wartawan) yang berpihak pada kebenaran, membela kebenaran dan mati demi kebenaran. Gregorius besar dalam iman, dalam kecedasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Dia menjadi besar bukan karena apa yang dia miliki, melainkan karena keberaniannya melepaskan apapun dari dirinya demi orang lain. Ukuran sejati dari kebesaran adalah seberapa besar dampak baik yang ditinggalkan. Seorang guru menginspirasi murid-muridnya, seorang relawan bekerja tanpa mencari popularitas diri, seorang pemimpin memilih jalan sulit demi keadilan, Gregorius menginspirasi kita dengan pewartaan kebenaran Sabda Allah melalui media percetakan (komunikasi) untuk melawan otoritas NAZI—mereka adalah contoh dari kebesaran yang dibentuk oleh pengorbanan, bukan pencitraan; kebesaran mereka ditentukan oleh cinta akan persekutuan kasih sebagai satu kawanan, bukan kasih dalam keberjarakan ruang; Gregorius, sesuai arti namanya adalah ‘kewaspadaan’ dan ‘kesiapsiagaan’ telah mengakarkan iman dalam kesukaran untuk membentuk karakter yang kuat dan menumbuh keteladan rohani yang patut kita tiru dan kenang sebagai memori hidup. Saat ini dia adalah ‘beato’, dan ‘martir’, seorang yang disapa bahagia karena heorik dalam iman akan Kristus Jalan, Kebenaran dan Hidup. Beato Gregorius dkk adalah sosok-sosok yang pantas disebut ‘beato-martir’. Mereka disambut meriah oleh Yesus, dengan ucapan ini, “berbahagialah kamu, sebab oleh karena Aku dan Injil, kamu telah difitnah dan dianiaya, upahmu besar di surga” (Mt. 5:10-12), selamat berbahagia bersama 108 martir yang dikenang hari ini, bersama Beato martir Gregorius, pelindung komunitas biara SVD TDM IV Oebufu. Jadilah saksi iman di dalam komunitas, keluarga, di tempat kerja dan di mana saja berada.














