Oelamasi, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Botol bekas air mineral, kulit bawang, dan air cucian beras yang biasanya langsung dibuang, kini punya nasib baru di tangan 15 ibu rumah tangga Dusun 4, Desa Nitneo.
Bahan-bahan sederhana itu disulap menjadi pupuk organik lewat sosialisasi pengelolaan sampah yang digelar mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Kamis (2/7/2026). Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan sekali jalan.
Ia menjadi titik awal dari program pengabdian masyarakat berdurasi tiga bulan, Juni hingga Agustus 2026, yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti), dengan misi besar: menekan tumpukan sampah yang setiap hari membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Alak, Kota Kupang.
Dari Memilah Sampah hingga Meracik
Pupuk Sesi pertama diisi Maria Augustin Lopes Amaral, dosen Manajemen UNWIRA Kupang, yang mengajak para ibu mengenali jenis-jenis sampah anorganik dan cara memilahnya sejak dari dapur rumah masing-masing.
“Ibu-ibu rumah tangga memegang peran penting dalam pengelolaan sampah keluarga. Kalau pemilahan dilakukan sejak dari rumah, beban di tempat pembuangan akhir bisa jauh berkurang,” ujar Maria.
Sesi berikutnya justru yang paling dinanti: mengubah sampah organik menjadi pupuk.
Dipandu Derven Nailoes, mahasiswa Pendidikan Kimia Unwira Kupang, bersama dosen pendamping Erly Grizca Boelan, para peserta diperkenalkan pada tiga metode yang bisa langsung dipraktikkan di rumah tanpa alat mahal.
Metode pertama, penyaringan. Metode kedua, perendaman. Keduanya butuh kesabaran sekitar 14 hari sebelum pupuk siap dipanen. Namun metode ketiga menjadi favorit karena hasilnya paling cepat: kulit bawang direndam bersama air cucian beras di dalam botol bekas air mineral, dan hanya dalam tujuh hari, pupuk cair pun siap digunakan.
“Kami sengaja memperkenalkan metode sederhana yang bisa langsung dipraktikkan di rumah, memakai alat dan bahan yang mudah didapat, seperti botol bekas air mineral,” kata Derven.
Menyasar Hulu dan Hilir Sekaligus
Bagi tim mahasiswa, sosialisasi hari itu baru separuh jalan. Program pengabdian ini dirancang menyasar dua sisi persoalan sampah sekaligus: hulu dan hilir.
Di hulu, edukasi seperti yang berlangsung di Dusun 4 Desa Nitneo diharapkan mengubah kebiasaan warga dalam memperlakukan sampah rumah tangga sejak dari sumbernya. Di hilir, mahasiswa turun langsung bersama warga membersihkan titik-titik yang selama ini menjadi lokasi pembuangan sampah sembarangan.
Jika kebiasaan baru ini bertahan lebih lama dari masa program tiga bulan, bukan tidak mungkin dapur-dapur di Dusun 4 Nitneo akan terus memproduksi pupuk sendiri, sementara tumpukan sampah di TPA Alak perlahan berkurang dan tidak akan terbakar setiap tahun.














