Dari Festival Namosain, Wali Kota Kupang Serukan Harmoni dan Kolaborasi dalam Keberagaman

Ragam Budaya, Satu Hati.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri pembukaan Event Budaya Multi Etnis Kelurahan Namosain bertajuk “Ragam Budaya, Satu Hati” yang digelar di Pantai Namosain, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan yang melibatkan berbagai suku dan etnis di Kelurahan Namosain itu menjadi momentum memperkuat persatuan, harmoni, serta kolaborasi masyarakat dalam keberagaman.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menegaskan bahwa festival budaya tersebut bukan sekadar ajang hiburan atau pertunjukan seni, melainkan refleksi atas kuatnya nilai keberagaman yang selama ini menjadi identitas Kota Kupang.

“Hari ini kita tidak sekadar merayakan festival budaya, tetapi juga merayakan keberagaman dan kolaborasi yang hidup di Kota Kupang. Keberagaman bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan. Bukan menjadi jarak, tetapi menjadi jembatan yang menyatukan kita,” ujarnya.

Menurut Wali Kota Kupang, harmoni tidak berarti semua harus sama, melainkan mampu hidup berdampingan secara seimbang di tengah berbagai perbedaan suku, agama, dan budaya. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat kolaborasi demi kemajuan Kota Kupang.

“Datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap tinggal bersama adalah sebuah kemajuan, dan bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan. Persatuan harus terus dijaga agar kita mampu berjalan bersama meski berbeda,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Bertha Hangge, mengatakan Kelurahan Namosain merupakan wilayah yang dihuni masyarakat dari berbagai suku, seperti Flores, Rote, Sumba, Sulawesi, dan daerah lainnya. Meski memiliki latar belakang yang beragam, masyarakat hidup rukun tanpa membedakan suku maupun agama.

“Keberagaman sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Namosain. Kami hidup berdampingan, saling menghargai, bahkan banyak yang sudah menjadi satu keluarga melalui ikatan pernikahan. Karena itu, perbedaan bukan menjadi persoalan, tetapi menjadi kekuatan,” jelasnya.

Bertha menjelaskan, festival berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diawali dengan karnaval yang diikuti perwakilan 36 RT dari 7 RW, kemudian dilanjutkan acara hiburan.

Pada hari kedua dan ketiga, panitia menggelar festival tari budaya yang diikuti 16 tim, masing-masing delapan tim tampil setiap harinya. Penampilan meliputi tarian tradisional, tari kreasi, serta persembahan lagu-lagu daerah.

Selain pertunjukan seni, festival juga menghadirkan sejumlah pelaku UMKM lokal, termasuk pengrajin tenun. Namun keterbatasan lokasi membuat jumlah peserta UMKM yang terlibat masih dibatasi sekitar lima hingga enam stand.

“Kami sebenarnya ingin melibatkan lebih banyak pelaku UMKM dan pengrajin tenun, tetapi kapasitas lokasi belum memungkinkan. Mudah-mudahan ke depan kegiatan ini bisa lebih besar lagi,” tutup Bertha.