dr. Christian Widodo dan Serena Francis Kenakan Pakaian Adat Flores sebagai Bentuk Solidaritas Korban Bencana

Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tingkat Kota Kupang 2026.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bertindak sebagai Inspektur Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tingkat Kota Kupang Tahun 2026 yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Senin (17/8/2026).

Dalam upacara tersebut, Wali Kota dr. Christian Widodo bersama istrinya, dr. Widya Cahya, selaku Ketua TP PKK Kota Kupang, mengenakan pakaian adat dari Kabupaten Manggarai. Sementara itu, Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, mengenakan pakaian adat dari Kabupaten Sikka.

Penggunaan pakaian adat Flores tersebut menjadi simbol solidaritas dan dukungan Pemerintah Kota Kupang kepada masyarakat di sejumlah wilayah Flores yang terdampak bencana alam.

Upacara berlangsung dalam suasana khidmat dan dihadiri sejumlah pejabat serta unsur pemerintahan Kota Kupang, di antaranya Ketua DPRD Kota Kupang, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Asisten Administrasi Umum Setda Kota Kupang, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Kupang, para pimpinan perangkat daerah, camat dan lurah se-Kota Kupang, serta 36 personel Paskibraka Kota Kupang.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, yang merupakan tema resmi yang ditetapkan pemerintah untuk peringatan kemerdekaan tahun 2026.

Usai upacara, Wali Kota Kupang menjelaskan alasan dirinya bersama Wakil Wali Kota memilih pakaian adat dari Manggarai dan Sikka.

“Hari ini saya dan Ibu Wakil memilih pakaian adat Flores. Saya menggunakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil menggunakan pakaian adat Sikka. Ini bentuk dukungan dan doa kita untuk keluarga-keluarga yang terdampak bencana gempa bumi,” ujar dr.Christian Widodo.

Menurutnya, pemilihan warna hitam pada pakaian yang dikenakan juga memiliki makna khusus, yakni sebagai bentuk ungkapan duka cita kepada keluarga korban yang meninggal dunia akibat bencana.

“Dasarnya hitam, artinya kita turut berbela sungkawa kepada keluarga-keluarga yang telah meninggal dunia. Jadi, warna hitam ini melambangkan turut berbela sungkawa,” katanya.

dr. Christian Widodo mengatakan, Manggarai dan Sikka merupakan bagian dari wilayah yang turut terdampak bencana. Karena itu, Pemerintah Kota Kupang ingin menunjukkan bahwa masyarakat Kota Kupang ikut merasakan duka dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang sedang menghadapi situasi tersebut.

Ia menambahkan, solidaritas terhadap korban bencana juga telah ditunjukkan berbagai elemen masyarakat di Kota Kupang. Sejumlah gereja telah membuka posko bantuan, sementara partai politik dan komunitas masyarakat juga mulai menggalang donasi.

“Jadi Kota Kupang tentu semua elemen masyarakat sudah bergerak. Sudah ada gereja-gereja yang membuka posko. Nanti Pemkot juga akan segera mengumpulkan donasi untuk kita bantu ke sana,” ungkapnya.

dr. Christian Widodo menilai gerakan solidaritas tersebut menunjukkan kepedulian masyarakat Kota Kupang terhadap warga Flores yang sedang menghadapi dampak bencana.

“Banyak sekali yang bergerak. Ada partai politik yang sudah mulai mengumpulkan donasi, gereja-gereja, komunitas masyarakat,” pungkasnya.