Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Program Studi Pendidikan Musik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang menyelenggarakan konser bertajuk “Simfoni Congka Sae” sebagai rekonstruksi lagu-lagu tradisional Manggararai, pada Sabtu (06/12).
Bertempat di Aula St. Hendrikus UNWIRA Kampus Penfui, konser tersebut merupakan inisiasi dari dosen Pendidikan Musik UNWIRA, Paskalis Romi Langgu, S.Sn., M.Art yang didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVI NTT.
Dalam sambutannya, Romi Langgu menyebut bahwa kendati konser itu bernuansa etnik Manggarai, namun mahasiswa yang terlibat di dalamnya tidak hanya berasal dari Manggarai. Hal tersebut menunjukkan minat mereka untuk menambah pengalaman musikalnya, bukan sekadar tampil karena latar belakang tertentu.
Romi menambahkan bahwa sebagai pagelaran rekonstruksi lagu-lagu tradisional, ia berharap agar ke depannya, ia semakin mampu mengembangkan karya-karya itu, terutama agar Lagu Manggarai dapat kian dikenal secara luas, khususnya di kalangan generasi muda. Ia juga mengharapkan bahwa melalui garapan musik itu dapat menambah khazanah dan keinginan khalayak untuk bisa lebih banyak menjelajah dan memperluas pendengaran musiknya.
Sementara itu, Dekan FKIP UNWIRA, Dr. Aleksius Madar, M.Ed mengapresiasi Prodi Pendidikan Musik yang telah turut serta dalam upaya pelestarian budaya lokal. Ia mengajak seluruh hadirin untuk tidak sekadar menyaksikan tampilan lagu-lagu yang dipersembahkan dalam kerangka revitalisasi dan rekonstruksi, tetapi juga dapat menghidupkannya kembali di era kontemporer, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam interaksi dengan kebudayaan lain.
Budayawan, akademisi sekaligus tokoh Manggarai di Kupang, Dr. Marsel Robot menyoroti kekhasan musik lokal tradisional yang tidak hanya mengandung syair-syair puitis, tetapi juga bermakna filosofis. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, nilai tersebut mulai tergerus. Untuk itu, event tersebut dipandangnya dapat menjadi jembatan yang memanggil masyarakat Manggarai untuk kembali pulang ke identitasnya. Ia mengapresiasi langkah baik Romi Langgu beserta tim yang menjawabi kegelisahan masa kini dengan menghadirkan karya positif itu.
Yuda, perwakilan BPK Wilayah XVI NTT dalam pemaparannya menjelaskan bahwa konser musik yang digelar itu merupakan bagian dari kegiatan kebudayaan yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan melalui skema fasilitasi pemajuan kebudayaan. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa program itu menyasar individu dan kelompok yang memiliki ketertarikan dan kepeduliam terhadap kebudayaan lokal.
Adapun bantuan itu bertujuan untuk mendukung kegiatan pemajuan kebudayaan dengan memberikan apresiasi melalui pelaksanaan festival, pameran atau pertunjukan; pagelaran upacara atau ritual adat; pelaksanaan seminar, sarasehan, lokakarya, atau workshop; dan pendokumentasian karya budaya untuk mendukung pengajuan warisan budaya tak benda Indonesia.
Ia mendorong masyarakat NTT untuk terlibat aktif dengan bergotong royong melakukan pemajuan kebudayaan NTT. Ia juga menegaskan bahwa BPK Wilayah XVI NTT siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan intensi tersebut, dengan harapan agar semakin banyak elemen yang nantinya akan mengajukan proposal fasilitasi pemajuan kebudayaan itu demi pengembangan kebudayaan di NTT.
Turut hadir dalam pagelaran itu, tokoh-tokoh Manggarai di Kupang, civitas akademika Prodi Pendidikan Musik UNWIRA, penikmat seni dan budaya, serta masyarakat umum yang antusias menyaksikan setiap karya yang ditampilkan.














