Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan merupakan satu dari tiga prodi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Berdiri sejak 1985, hingga kini prodi tersebut telah mencetak lulusan yang berkarya dalam aneka bidang pelayanan di tengah masyarakat.
Mengusung visi “Menjadi pusat pengembangan Ilmu Pemerintahan yang unggul dalam tata kelola pemerintahan daerah, manajemen kawasan perbatasan, dan kebijakan publik yang inovatif, berbasis riset, berperspektif kritis-progresif, berkarakter Kristiani, serta berakar pada kearifan budaya lokal”, Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA fokus menjalankan sejumlah misi yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pembelajaran, penelitian, dan pengabdian.
Kepada Radio Tirilolok, Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Eusabius Separera Niron, S.IP., M.IP menegaskan bahwa prodi tersebut merupakan laboratorium intelektual dan sosial yang berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan. Eston – sapaan akrabnya – memaparkan keunggulan akademik Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA yang berorientasi pada keilmuan yang kontekstual dan teritorial. Secara khusus, kurikulum dan kajian akademik di prodi itu dirancang untuk membaca secara kritis dinamika pemerintahan daerah kepulauan, masyarakat adat, desa, dan kawasan perbatasan negara – yang disebutnya kerap terpinggirkan dari diskursus pemerintahan arus utama.
Tak hanya itu, Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA berkomitmen pada integrasi humanisme Kristiani dan etika publik. Eston menekankan bahwa nilai tersebut tidak dimaknai secara dogmatis, melainkan sebagai etika publik universal yang menitikberatkan martabat manusia, keberpihakan pada kelompok rentan, solidaritas sosial, dan tanggung jawab moral penyelenggara pemerintahan.
Hal lain yang melekat pada Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA ialah pengembangan pendekatan pembelajaran yang kritis-progresif terhadap tata kelola pemerintahan, melalui kajian kebijakan, analisis kekuasaan, studi demokrasi lokal, dam praktik advokasi publik. Semua komponen tersebut dimaksudkan untuk melatih mahasiswa dalam membongkar relasi kuasa, ketimpangan struktural, dan praktik maladministrasi, sekaligus merumuskan alternatif kebijakan yang lebih adil, partisipatif, dan inklusif.
Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA juga memusatkan penguatan pembelajaran berbasis riset dan pengabdian masyarakat, dengan terlibat dalam riset kebijakan daerah, pendampingan desa, penguatan kapasitas kelembagaan lokal, dan pendidikan politik masyarakat. Selain itu, penguatan jejaring kelembagaan dan orientasi praktis juga menjadi perhatian utama. Ini terbukti melalui jejaring strategis dengan pemerintah daerah, lembaga penyelenggara pemilu, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas adat.
Lebih lanjut, Eston mengemukakan penerapan kurikulum OBE (Outcome-Based Education) yang menautkan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ia menyebut bahwa Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif pembelajaran melalui pendekatan student-centered learning, dengan membangun tradisi dialog kritis, guna membentuk karakter akademik yang terbuka, rasional dan beretika.
Kaprodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA melanjutkan, secara substansial, kurikulum Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA mengintegrasikan tiga pilar utama keilmuan, yakni teori pemerintahan, politik lokal, dan kebijakan publik. Secara keseluruhan, kurikulum pendidikan pada prodi tersebut dirancang untuk melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, kritis terhadap kekuasaan, berakar pada kebudayaan lokal, serta berkarakter humanis dan beretika publik.
Berangkat dari komitmen itu, Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA mampu menciptakan lulusan yang memiliki prospek kerja luas dan relevan secara struktural maupun kultural, antara lain di bidang birokrasi pemerintahan daerah dan desa, analis kebijakan publik dan perencana pembangunan, penyelenggara dan pengawas demokrasi, praktisi dan aktivis organisasi masyarakat sipil, konsultan dan pendamping pemerintahan desa, akademisi dan peneliti kebijakan publik, serta wirausaha sosial dan inovator kebijakan.
Tidak berhenti sampai di situ, sumbangsih Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA juga terwujud dari ruang akademik ke transformasi sosial melalui sinergi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam beberapa format, di antaranya penguatan kapasitas tata kelola pemerintahan lokal, pemberdayaan masyarakat dan penguatan demokrasi lokal, pelestarian dan pemberdayaan nilai budaya lokal, produksi pengetahuan untuk kepentingan publik, dan pembentukan agen perubahan sosial.
Dalam relasi bersama para alumni, Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA tidak sekadar membangun ikatan emosional, melainkan juga sebagai hubungan timbal-balik yang berkelanjutan, dengan membentuk kemitraan strategis untuk membentuk citra, kualitas dan dampak sosial di tengah masyarakat.
Koneksi lainnya juga terjalin pada lintas program studi dalam lingkup UNWIRA sebagai integrasi ilmu untuk solusi kontekstual dan sinergi kurikulum Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Kolaborasi lain antar Perguruan Tinggi menjadi bentuk ekspansi dampak dan pertukaran pengetahuan yang dilakukan oleh Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA dengan mengembangkan riset kolaboratif tentang tata kelola pemerintahan daerah dan kawasan perbatasan, pengabdian masyarakat bersama di wilayah tertinggal dan kepulauan, serta pertukaran dosen dan mahasiswa dalam kegiatan akademik dan sosial.
Mengakhiri pernyataannya, Eston Niron berharap bahwa Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA dapat kian meneguhkan dirinya sebagai rumah belajar bagi calon pemimpin publik masa depan, khususnya generasi muda NTT. Baginya, para calon mahasiswa baru yang akan datang, tidak hanya ditempa untuk belajar tentang pemerintahan, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan NTT dan Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.
Kepada Civitas Akademika Prodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, ia mengharapkan agar ruang refleksi kritis bakal terus terbangun, dengan menghidupkan prodi sebagai tempat pembelajaran bersama. Ia juga mendorong seluruh komponen prodi untuk memberi diri dengan spirit humanisme dan terus konsisten pada komitmen untuk membangun prodi yang relevan dan bermakna.














