Festival Budaya Manutapen Angkat Etnis Timor, Polisi Imbau Warga Jaga Ketertiban

Tiga hari kawal festival budaya Manutapen.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Di tengah kemeriahan Festival Budaya Kelurahan Manutapen 2026, aspek keamanan menjadi perhatian penting agar seluruh rangkaian kegiatan budaya dapat berlangsung nyaman dan tertib bagi masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, Bhabinkamtibmas Kelurahan Manutapen, AIPTU Andi Alan Maro dari Polsek Alak, Polresta Kupang Kota, turut mengawal jalannya festival.

Festival Budaya Kelurahan Manutapen resmi dibuka pada Kamis, (27/8/2026), di Halaman Serbaguna, Kantor Kelurahan Manutapen, Kota Kupang. Kegiatan tersebut mengangkat etnis Timor sebagai tema utama, yang dipadukan dengan semangat kemerdekaan.

Pemilihan tema etnis Timor disesuaikan dengan karakteristik masyarakat Kelurahan Manutapen yang mayoritas merupakan masyarakat etnis Timor. Festival menjadi ruang bagi warga untuk mengenal, mempertahankan, sekaligus menampilkan kekayaan seni dan budaya daerah.

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, AIPTU Andi Alan Maro mengatakan pengamanan festival dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan karakter kegiatan dan kondisi masyarakat. Menurut Alan, kegiatan serupa telah berlangsung dari tahun ke tahun sehingga pola pengamanannya sudah cukup dipahami.

“Ada persiapan khusus, kita mengalir saja karena dari tahun ke tahun sudah seperti ini,” ujar Andi.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan festival umumnya berakhir sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WITA. Kondisi tersebut turut membantu pengamanan karena aktivitas masyarakat tidak berlangsung hingga larut malam.

“Kalau kegiatan begini paling lama jam 10, sudah selesai. Makanya keamanannya tidak pernah ada keributan, tidak pernah ada ini, semua terjamin aman,” katanya.

Selain melakukan pengamanan selama kegiatan berlangsung, pihak kepolisian juga memberikan imbauan kepada masyarakat melalui perangkat lingkungan, termasuk RT dan RW. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga ketertiban sekaligus mendorong masyarakat ikut berpartisipasi secara positif dalam festival.

“Memang awalnya kita sudah kasih imbauan lewat RT, lewat RW,” jelasnya.

Meski demikian, Alan menilai partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni dan budaya masih menjadi tantangan. Menurutnya, jumlah warga yang hadir biasanya cukup ramai pada hari pertama, tetapi cenderung menurun pada hari kedua dan ketiga.

“Kalau orang datang lihat hari-hari pertama begini, dia ramai. Nanti hari kedua, hari ketiga, sepi. Karena memang begitu sudah. Minatnya masyarakat masih terlalu kurang,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan budaya seperti Festival Budaya Manutapen tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu menarik minat masyarakat untuk terlibat dan memberikan manfaat positif bagi lingkungan.

Dengan pengamanan yang dilakukan secara berkelanjutan serta dukungan masyarakat, Festival Budaya Manutapen 2026 diharapkan dapat menjadi ruang perjumpaan warga yang aman, tertib, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal.