Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar acara Talkshow bertema Percepatan Pembentukan Gereja Ramah Anak dengan subtema Anak Terlindungi, Nama Tuhan Dimuliakan, Kamis (11/12/2025) di Studio Radio TIRILOLOK. Hadir sebagai narasumber RD. Giovani Aditya Lewa Arum (Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Kupang), Pdt. Arantji Muskanan, S.Th (Sekbid Perempuan Lansia & PART Sinode GMIT), dan Pdt. Ronny Steven Runtu, M.Th (Ketua Komunitas Sahabat Anak “TUNAS POHON ZAITUN”).
Giovani Aditya Lewa Arum menjelaskan bahwa isu perlindungan anak mendapat perhatian khusus dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025 di Jakarta. “Dari 60 artikel yang dihasilkan, ada tiga artikel yang secara eksplisit berbicara tentang perlindungan anak,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masalah kekerasan digital, prostitusi, dan eksploitasi anak menjadi sorotan serius.
“Kami di Keuskupan Agung Kupang sudah memiliki Children Protection Policy sebagai dasar hukum bagi paroki dan stasi untuk mengembangkan program pastoral ramah anak,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa gereja harus menerjemahkan komitmen nasional ini ke dalam program pendampingan yang nyata dan menyentuh anak-anak rentan. “Isu ini sudah ada, tinggal bagaimana gereja menerjemahkannya menjadi langkah strategis,” tegasnya.
Pdt. Arantji Muskanan mengingatkan bahwa anak memiliki martabat sebagai gambar Allah. “Anak adalah manusia yang punya martabat. Mereka harus dilindungi,” ujarnya. Ia menekankan bahwa gereja harus memberi ruang agar anak menyampaikan kebutuhan dan suaranya dalam pelayanan. “Kadang kita orang dewasa memutuskan program tanpa mendengar anak. Gereja seharusnya merekrut suara anak,” katanya.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya kasus HIV-AIDS pada remaja dan maraknya prostitusi online. “Saya sangat miris melihat bagaimana anak-anak terjebak dalam praktik ini,” ungkapnya. Menurutnya, gereja harus hadir menemani anak dan remaja yang terluka agar mereka sadar bahwa mereka berharga. “Gereja tidak boleh tinggal diam. Kita harus turun melihat kenyataan hidup anak-anak,” tegasnya.
Pdt. Arantji Muskanan juga menyatakan lemahnya relasi keluarga akibat penggunaan gawai. “Ada quality time, tetapi dipakai untuk bermain HP masing-masing. Mereka duduk bersama, tetapi tidak berinteraksi,” ujarnya. Ia menilai gereja, keluarga, pemerintah, dan LSM harus berkolaborasi untuk menyelamatkan anak-anak dari risiko sosial. “Kita adalah alat di tangan Tuhan untuk menyelamatkan anak-anak kita,” tambahnya.
Sementara itu, Pdt. Ronny Steven Runtu berbagi pengalaman panjang dalam mendampingi anak jalanan dan anak yang bekerja. “Ada perbedaan antara anak jalanan dan anak yang dipekerjakan. Tidak semua anak jalanan tereksploitasi,” jelasnya. Namun, ia mengakui bahwa stigma masih sering melekat pada mereka.
Ia menegaskan bahwa gereja sudah memiliki berbagai perangkat pelayanan seperti panduan gereja ramah anak, kode etik pelayan, dan forum anak. “Namun munculnya kasus-kasus kekerasan ini menjadi otokritik bagi gereja. Kita harus jujur bahwa perhatian kita masih kurang,” ujarnya.
Menurut Pdt. Ronny Steven Runtu, gagasan gereja ramah anak sudah lama berkembang dalam gerakan gereja sedunia dan diterapkan di Indonesia. “Ini bukan tren baru, tetapi proses panjang. Yang penting sekarang adalah percepatan,” tegasnya.














