Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan Festival Bahasa Ibu pada Kamis, (20/11/2025), di Hotel Kristal Kupang. Acara dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin.
Dalam sambutannya, Hafidz Muksin menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat, pendidik, guru, dan orang tua untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu melalui penguatan bahasa. “Bahasa Indonesia harus tetap berdaulat, sementara bahasa daerah perlu terus dilestarikan sebagai kekayaan budaya nasional,” ujarnya. Ia juga mengajak peserta menggaungkan slogan Trigatra Bangun Bahasa—mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Hafidz turut menyampaikan kebanggaannya atas penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pada Sidang Umum UNESCO dan penggunaannya untuk pertama kali dalam pidato resmi oleh Menteri Pendidikan pada Sidang Umum UNESCO ke-43. “Pengakuan internasional ini lahir dari kekayaan bahasa daerah yang memperkaya Bahasa Indonesia. Karena itu revitalisasi bahasa daerah menjadi program prioritas dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT, R. Hery Budhiono, menjelaskan bahwa Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi NTT 2025 merupakan puncak dari program revitalisasi bahasa daerah yang berlangsung sejak 2022. Hingga 2025, sembilan bahasa daerah telah direvitalisasi di tujuh kabupaten. “Lebih dari 30 ribu guru dan siswa terlibat dalam program pelindungan bahasa selama empat tahun terakhir,” ujarnya.
Ia juga melaporkan sejumlah tahapan revitalisasi yang telah dijalankan, mulai dari bimbingan teknis guru utama, penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten, hingga peluncuran kurikulum muatan lokal bahasa daerah. Hery mengapresiasi antusiasme peserta dari berbagai daerah yang dinilainya mencerminkan kesungguhan dalam melestarikan bahasa daerah.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata dari Balai Bahasa Provinsi NTT kepada Pemerintah Kota Kupang sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap pelestarian bahasa daerah.














