Maumere, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero – Sikka, P. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang kepakaran Filsafat Politik pada Sabtu (18/04). Bertempat di Aula St. Thomas Aquinas Kampus 1 IFTK Ledalero, pengukuhan tersebut dilakukan secara langsung oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng.
Dalam orasi ilmiahnya, P. Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD mengangkat tema “Legitimasi Kekuasaan Epistemologi Demokrasi dan Daya Pertimbangan Politik : Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia”. P. Prof. Dr. Otto menyoroti bagaimana daya pertimbangan politik masyarakat dapat memfasilitasi diskursus publik yang pada akhirnya memungkinkan terciptanya legitimasi kekuasaan dalam sebuah demokrasi.
Secara khusus, ia menggolongkan substansi orasinya ke dalam beberapa bagian, yakni pertama, elaborasi tentang konsep legitimasi kekuasaan, dengan merujuk pada pandangan Max Weber. Kedua, ulasan tentang basis epistemologis demokrasi. Ketiga, ulasan tentang konsep politische Urteilskraft. Keempat, gambaran tentang relasi antara ketiga konsep utama. Kelima, catatan penutup dan ucapan terima kasih.
Ia menekankan hubungan antara legitimasi kekuasaan, epistemologi dan pertimbangan politik yang bersifat sirkular, dengan mengikhtisarkan demokrasi sebagai sebuah lingkaran reflektif antara warga yang menilai, ruang publik yang memproduksi dan mereproduksi pengetahuan, dan kekuasaan yang mendapatkan basis legitimasi dari seluruh proses yang telah berjalan tersebut.
Di sisi lain, P. Prof. Dr. Otto memaknai gelar Guru Besarnya sebagai refleksi filosofis yang tidak lahir dari ruang kosong atau hanya dari hasil pergulatan intelektual pribadinya, melainkan juga dari ziarah panjang perjumpaan dengan pelbagai orang dengan beragam latar belakang budaya dan pandangan hidup, yang turut berkontibusi membentuk pemahamannya tentang politik dan demokrasi.
Ia menegaskan bahwa pengalaman belajar di berbagai ruang akademik, termasuk penelitian bersama komunitas-komunitas lokal, kegiatan advokasi untuk masyarakat pinggiran dan dialog yang sering diwarnai perbedaan yang radikal, telah mengajarkannya bahwa kebijaksanaan politik tidak pernah tumbuh dalam kesendirian, melainkan dalam komunikasi dan dialog tanpa henti dengan orang lain.
Oleh karena itu, ia menyebut, perjalanan intelektualnya bukan prestasi pribadi, tetapi hasil dari sebuah proses pencarian bersama. Kepada Serikat Sabda Allah / SVD (Societas Verbi Divini), ia menyampaikan terima kasih, khususnya kepada para konfarter yang telah membentuk horizon spiritual dan etis dari panggilan intelektualnya, termasuk memfasilitasinya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Ditambahkannya, lewat spiritualitas dialog profetis, SVD telah mengajarkan bahwa sikap ilmiah tidak pernah netral, tetapi selalu berpihak kepada mereka yang terpinggirkan.
Ia juga berterima kasih kepada keluarga, pihak pemerintah dan pemangku kebijakan publik, kolega dan pimpinan perguruan tinggi, pimpinan gereja lokal dan tokoh agama, yang dengan caranya masing-masing turut membentuk dimensi moral dan pastoralnya. Terima kasih secara khusus juga disampaikannya kepada Yayasan Persekolahan St. Paulus Ende yang menaungi dan memastikan agar arah kerja dan peta jalan IFTK Ledalero tetap selaras dengan karya misi gereja universal dan SVD.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa karya misi IFTK Ledalero ialah partisipasi dalam Missio Dei, yakni Karya Allah yang selalu berlangsung dalam sejarah konkrit dan kebudayaan manusia. Baginya, pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai produk ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai praksis iman yang berdialog dengan konteks sosial, budaya, dan politik. Dukungan Yayasan St. Paulus Ende dimaknainya sebagai dorongan yang memungkinkan IFTK Ledalero untuk terus menjalankan pendidikan sebagai ruang inkarnasi nilai-nilai injil dalam realitas Indonesia, di mana refleksi intelektual, tanggung jawab sosial dan pelayanan publik bertemu dalam satu horizon misioner yang sama.
Tak lupa, jebolan Hochschule fur Philosophie, Munchen – Jerman itu mengapresiasi seluruh civitas akademika IFTK Ledalero yang telah ambil bagian dalam percakapan dan perjumpaan akademik sehari-hari dan menciptakan ruang belajar bersama sekaligus memperkaya refleksi filosofis yang ia berikan.
P. Prof. Dr. Otto juga mengemukakan bahwa dalam ziarah intelektualnya di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, ia mengalami Ledalero sebagai ruang yang paling kondusif bagi pertumbuhan kreativitas dan pengembangan ilmu pengetahuannya. Menurutnya, keheningan Ledalero memberikan kedalaman refleksi, yang pada saat bersamaan, keterbukaannya taerhadap persoalan kemanusaiaan dan sosial politik, menjaga pemikiran tetapi berakar dalam realitas sosial. Untuk itu, ia mengajak keluarga besar IFTK Ledalero untuk terus melanjutkan eksistensi Ledalero sebagai bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi komunitas pencarian kebenaran yang hidup.
Adapun pengukuhan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat publik, di antaranya Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena; Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago; dan Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Hadir pula, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro.














