Fakultas Filsafat UNWIRA Hadirkan Ruang Intelektual dalam Festival PSA V

Berlangsung di Aula St. Maria Immaculata UNWIRA Kampus Penfui, pagelaran festival tersebut mengangkat tema “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan Indonesia dan Timor Leste.”

Kanan : Ketua BEM Fakultas Filsafat UNWIRA, Fr. Herman K. Seran

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia. Hal itu terbukti melalui penyelenggaraan Festival Philosophia Sapere Aude (PSA) V oleh Fakultas Filsafat, pada Kamis-Sabtu (04-06/06).

Berlangsung di Aula St. Maria Immaculata UNWIRA Kampus Penfui, pagelaran festival tersebut mengangkat tema “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan Indonesia dan Timor Leste.” Program rutin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Filsafat UNWIRA itu, tahun ini menghadirkan sejumlah agenda, yakni konser, diskursus, tari kreasi, teater, hand mind, paduan suara dan pameran stand. Tak hanya itu, berbagai perlombaan juga dilakonkan, antara lain lomba debat, menulis artikel ilmiah, dan dramatisasi kitab suci.

Kepada Radio TIRILOLOK, Ketua BEM Fakultas Filsafat UNWIRA, Fr. Herman Khaferius Seran menyebut bahwa PSA V secara filosofis merupakan sebuah festival pemikiran yang menjadi identitas Fakultas Filsafat itu sendiri. Baginya, ajang tersebut menjadi ruang intelektual untuk melahirkan ide dan gagasan, dengan bertolak pada ragam realitas dan problematika di sekitar, khususnya terkait topik yang ditonjolkan tentang relasi antara Indonesia dan Timor Leste, terutama di wilayah perbatasan.

Lebih lanjut, Fr. Feri – sapaan akrabnya – menjelaskan bahwa tema yang dipilih dalam penyelenggaraan PSA V itu berangkat dari hasil riset yang telah dilakukan oleh Fakultas Filsafat UNWIRA selama sekitar 3 tahun terakhir. Keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat perbatasan membawa mereka pada kesadaran akan eratnya sistem kekerabatan antar warga di  dua negara tersebut. Sebab itu menurutnya, kunci utama dalam penyelesaian aneka konflik di area itu ialah dengan membangun dialog yang baik. Ia melihat bahwa tapal batas tidak serta merta menjadi penghalang bagi relasi sosial di antara kelompok setempat.

Ia berharap, PSA tidak sekadar menjadi kegiatan tahunan, melainkan akan terus mewadahi pemikiran kritis, inovasi dan karya mahasiswa-mahasiswi dalam membaca persoalan di sekeliling mereka. Ia juga mengharapkan agar PSA dapat kian memperkuat kolaborasi Fakultas Filsafat dengan program studi dan fakultas lainnya dalam lingkup UNWIRA, maupun secara eksternal dengan pelbagai mitra lainnya. Secara khusus, ia mengapresiasi partisipasi Universitas Islam Indonesia (UII) dari Yogyakarta yang mengikuti kompetisi debat nasional.

Di akhir pernyataannya, Fr. Feri mendorong lebih banyak pihak, terutama para akademisi dan praktisi, untuk menggali masalah aktual di sekitar dan terlibat aktif dalam membangun diskursus yang memungkinkan lahirnya solusi berkelanjutan bagi pembangunan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Senat Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang (STIPAS KAK), Andreas C. Duoq menuturkan, keikutsertaan kampusnya dalam stand pameran PSA V menjadi wujud nyata kolaborasi antar perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kreativitas mahasiswa-mahasiswinya, dengan terlibat dalam peluang pembelajaran yang tidak terbatas di ruang kelas.

Diharapkannya, PSA akan terus tumbuh sebagai arena untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, dengan menggandeng lebih banyak kalangan untuk berperan serta dan ikut ambil bagian dalam upaya menghadirkan konsep dan pemikiran yang solutif bagi masyarakat secara umum.

Adapun PSA V dimeriahkan oleh stand pameran dari sejumlah program studi di UNWIRA; Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); komunitas, dan perguruan tinggi lainnya.