Jejak Panjang Transformasi Teater Mahasiswa di Ledalero

Aletheia Goes to West Timor.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Gen-Z Bicara dengan tema “Aletheia Goes to West Timor”, yang menghadirkan narasumber Fr. Yohan Mataubana, SVD dan Fr. Martin Wukak, SVD. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, di Studio Radio TIRILOLOK.

Dalam kesempatan tersebut, dibahas perjalanan Teater Aletheia, kelompok seni yang bernaung di bawah Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere, Flores. Kelompok ini sebelumnya dikenal sebagai Teater Seru sebelum kemudian berganti nama menjadi Aletheia, yang diambil dari bahasa Yunani dengan makna “kebenaran”.

Dalam dialog interaktif, Fr. Yohan Mataubana, SVD, menjelaskan bahwa sejarah Aletheia memiliki perjalanan yang cukup panjang dan tidak sederhana. Menurutnya, keberadaan Aletheia tidak terlepas dari semangat dan dinamika kehidupan komunitas di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.

Ia menuturkan, pada awal tahun 2000-an, sejumlah frater mulai merasakan kegelisahan terkait pengelolaan kegiatan seni, khususnya teater dan musik, yang kala itu masih digabung dalam satu wadah kegiatan kampus.

Situasi tersebut mendorong munculnya diskusi internal di antara para frater untuk mencari bentuk pengembangan yang lebih terarah.

Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai pertemuan informal hingga akhirnya para frater menyampaikan aspirasi dari mereka, termasuk kepada Mgr. Paul Budi Kleden, SVD yang saat itu masih bertugas sebagai formator di seminari.

Sebagai tindak lanjut, para frater kemudian diarahkan untuk berdialog dengan Pater Dr. Felix Baghi, SVD. Dari pertemuan tersebut, disepakati bahwa kelompok teater membutuhkan pendampingan yang lebih terstruktur, dengan syarat adanya komitmen kuat dari para anggotanya.

Dalam pertemuan di Aula Santo Thomas Aquinas pada tahun 2003, Pater Dr. Felix Baghi, SVD kemudian mengusulkan nama Aletheia, yang berasal dari bahasa Yunani dan berarti “kebenaran”. Nama tersebut akhirnya disepakati dan menjadi identitas baru kelompok teater tersebut.

Sementara itu, Fr. Martin Wukak, SVD dalam kesempatan yang sama memberikan pesan kepada pendengar terkait pementasan musik dan teater yang akan datang. Ia menekankan pentingnya kehadiran langsung dalam setiap pertunjukan.

“Rindu saja tidak cukup, yang cukup itu bertemu,” ujarnya. Ia mengajak umat dan masyarakat untuk tidak hanya menyaksikan melalui siaran langsung, tetapi hadir secara langsung di lokasi pementasan, baik di Kefa, Atambua, maupun Kota Kupang.

Untuk diketahui, Teater Aletheia sendiri resmi berdiri pada 5 Oktober 2004 dan hingga kini terus berkembang sebagai wadah ekspresi seni peran mahasiswa Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.