Lestarikan Lagu Daerah dengan Gaya Kekinian, San Jose Choir Curi Perhatian Masyarakat

Harmoni suara dan tarian tradisional warnai festival budaya.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Penampilan memukau San Jose Choir Kupang sukses mencuri perhatian masyarakat dalam Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Nefonaek yang digelar di Lapangan Futsal Nefonaek, Kamis (6/8/2026).

Lewat harmoni vokal yang dipadukan dengan tarian tradisional dan balutan busana khas Nusa Tenggara Timur (NTT), kelompok paduan suara ini tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam melestarikan dan mempromosikan budaya daerah hingga ke tingkat internasional.

San Jose Choir Kupang merupakan kelompok paduan suara yang didirikan pada 26 Februari 2009 oleh mendiang Gabriel Busa bersama rekan-rekannya dengan visi “Melayani dengan Hati”. Selama perjalanannya, paduan suara kebanggaan Kota Kupang ini telah menorehkan berbagai prestasi, termasuk meraih predikat terbaik pada ajang Nusantara Gemilang 2022.

Anggota San Jose Choir Kupang, Rey Seran, mengatakan bahwa meski dikenal sebagai paduan suara gereja, San Jose Choir juga memiliki misi memperkenalkan budaya NTT melalui musik. Lagu-lagu daerah yang dibawakan selalu dipadukan dengan tarian tradisional, kostum adat, serta lirik dalam berbagai bahasa daerah di NTT sehingga memberikan pengalaman budaya yang utuh kepada penonton.

“Kami ingin budaya NTT tidak hanya didengar melalui lagu, tetapi juga terlihat melalui tarian dan busana yang kami gunakan. Dengan begitu masyarakat bisa menikmati sekaligus mengenal kekayaan budaya daerah,” ujar Rey kepada Radio TIRILOLOK.

Saat ini San Jose Choir memiliki sekitar 55 anggota aktif. Namun, dalam setiap penampilan biasanya hanya 35 hingga 40 personel yang tampil menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing anggota. Meski demikian, seluruh anggota tetap berkomitmen memberikan penampilan terbaik di setiap kesempatan.

Dalam berbagai kegiatan budaya, San Jose Choir rutin membawakan lagu-lagu daerah dari berbagai wilayah di NTT, di antaranya Ikan Naik di Pantai, Tabola Bale, Dendang Dikideng Dua karya Alfred Gare yang telah mendapat izin untuk dibawakan, Mana Lolo Banda, serta sejumlah lagu daerah dari Timor Tengah Utara (TTU), Alor, dan daerah lainnya.

Menurut Rey, pilihan membawakan lagu-lagu daerah merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Ia menilai generasi muda saat ini lebih akrab dengan musik populer dari luar negeri sehingga lagu daerah perlu dikemas lebih kreatif agar tetap diminati.

“Kalau lagu daerah dikemas dengan konsep yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai budayanya, anak-anak muda akan tertarik untuk mendengar dan mencintainya,” katanya.

Selain aktif tampil dalam berbagai kegiatan budaya, San Jose Choir Kupang juga tengah mempersiapkan diri mengikuti kompetisi paduan suara tingkat internasional pada akhir tahun 2026.

Meski belum dapat mengungkapkan negara tujuan karena masih dalam tahap persiapan dan penggalangan anggaran, Rey berharap dukungan masyarakat agar tim mampu membawa nama baik Kota Kupang, NTT, dan Indonesia di panggung dunia.

“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar persiapan kami berjalan lancar dan bisa memberikan hasil terbaik untuk mengharumkan nama NTT dan Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Rey menyampaikan apresiasi kepada para pelatih dan pembina yang selama ini membimbing San Jose Choir hingga terus berkembang. Ia juga mengajak generasi muda untuk berani menekuni minat dan bakat yang dimiliki.

“Ikuti passion dan hobi kalian, tekuni dengan sungguh-sungguh, dan berikan yang terbaik. Dengan kerja keras dan konsistensi, setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih prestasi,” tutupnya.