Lomba Karya Tulis Angkat Nilai Edukatif di Balik Ritual Tradisional NTT

Museum Nusa Tenggara Timur menggelar Lomba Karya Tulis tingkat perguruan tinggi dengan tema “Transformasi Ritual Tradisional dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Modern di Provinsi NTT”

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Museum Nusa Tenggara Timur menggelar Lomba Karya Tulis tingkat perguruan tinggi dengan tema “Transformasi Ritual Tradisional dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Modern di Provinsi NTT”. Kegiatan ini melibatkan enam perwakilan program studi dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang dan sekitarnya.

Pada Kamis (18/9/2025) Kepala Seksi Edukasi dan Publikasi UPTD Museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Wenseslaus Gampur, menjelaskan bahwa lomba ini bertujuan menggugah kreativitas mahasiswa serta memperkenalkan kembali peradaban dan nilai-nilai budaya NTT melalui karya ilmiah.

“Yang paling pokok, kami ingin membangkitkan kreativitas mahasiswa untuk mengenal peradaban di Provinsi NTT lewat tulisan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda budaya, melainkan juga sebagai ruang edukatif untuk generasi muda.

“Dengan mengenal koleksi museum, mahasiswa dapat mengekspresikan gagasan, ide, dan cara pandang mereka tentang eksistensi ritual tradisional dalam kehidupan modern,” tambahnya.

Enam peserta yang ikut dalam lomba ini berasal dari berbagai program studi, antara lain:

Sosiologi dan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Nusa Cendana

Program Studi Sejarah FKIP Undana

Program Studi Sejarah UPG 1945

Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira

Antropologi Universitas Muhammadiyah Kupang

Pelaksanaan lomba berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, empat peserta menyampaikan presentasi, dan sisanya dua peserta tampil pada hari kedua. Penilaian akhir dan pengumuman pemenang akan dilakukan setelah seluruh peserta selesai mempresentasikan karya tulis mereka.

Lebih lanjut, Wenseslaus berharap kegiatan ini dapat memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya menjaga dan memahami budaya lokal, terutama di tengah gempuran modernisasi.

“Kami ingin mahasiswa memiliki daya analisis yang kritis untuk melihat bagaimana ritual tradisional tetap bisa relevan dalam konteks kehidupan modern. Ini penting agar nilai-nilai budaya di balik eksistensi ritual tersebut tetap terjaga,” pungkasnya.