Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menggelar Lomba Karya Tulis Museum Tingkat Perguruan Tinggi dengan tema “Transformasi Ritual Tradisional dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Modern di Provinsi NTT.”
Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, pada Kamis (18/9/2025) salah satu peserta lomba, Esli Neolaka, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang, menceritakan pengalamannya mengikuti lomba ini sebagai pengalaman baru di semester tiga perkuliahannya.
“Saya tahu informasi lomba ini dari dosen pembimbing yang membagikan ke grup kelas. Itu menjadi motivasi awal saya ikut, karena sebelumnya belum pernah ikut lomba seperti ini,” ujar Esli.
Ia mengaku, dorongan dari teman-teman sekelas juga ikut memacu semangatnya untuk mencoba menulis karya ilmiah, terutama dengan topik yang sangat dekat dengan budaya lokal.
“Kami ingin belajar menulis bersama, dan memilih tema tentang Ritual Pire yang ada di Kecamatan Dipsoko, Sawalogai, Flores. Ini adalah tema yang sangat unik dan belum banyak ditulis sebelumnya,” jelasnya.
Esli menjelaskan bahwa ritual Pire mengandung nilai larangan dan memiliki struktur sosial yang dipimpin oleh seorang Musalaki—tokoh adat yang memiliki otoritas kepemimpinan secara turun-temurun. Menurutnya, peran Musalaki sangat berpengaruh karena masyarakat setempat sangat menaati petuah dan arahan yang diberikan.
“Kami tertarik menulis tentang hal ini karena otoritas Musalaki sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Ini yang membuat kami sepakat memilih topik ini,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya referensi tertulis terkait ritual Pire. Mereka harus memulai riset dari nol dan banyak berdiskusi, bahkan melakukan wawancara informal melalui video call WhatsApp dengan teman-teman yang lebih memahami cerita dan konteks ritual tersebut.
“Kami mencari tahu langsung dari orang yang tahu tentang ritual ini. Karena belum ada penulisan sebelumnya, kami harus kerja ekstra mencari informan,” ungkap Esli.
Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti lomba menulis, Esli berharap pengalaman ini bisa menjadi awal yang baik untuk meningkatkan kemampuan menulis, berpikir kritis, dan memperluas wawasan budaya.
“Semoga dari sini kami bisa terus menulis, mungkin nanti bisa jadi bahan proposal atau skripsi. Ini jadi awal yang bagus buat kami belajar lebih jauh tentang budaya kita sendiri,” pungkasnya














