Menulis Menjadi Bekal Penting Generasi Z Menghadapi Masa Depan

Pentingnya Menulis bagi Generasi Z.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Gen-Z Bicara dengan mengangkat tema Pentingnya Menulis bagi Generasi Z. Kegiatan yang berlangsung di Studio Radio TIRILOLOK pada Rabu, (5/8/2026), menghadirkan Jelia De Carvalho Belo S.Ak sebagai narasumber.

Dalam dialog interaktif Jelia menjelaskan bahwa VDMI merupakan singkatan dari Van Deventer-Maas Indonesia, sebuah yayasan beasiswa dari Belanda yang memberikan dukungan kepada mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu di Indonesia.

Di Kota Kupang, program tersebut bermitra dengan Universitas Katolik Widya Mandira, Universitas Kristen Artha Wacana, Universitas Nusa Cendana, serta Universitas Citra Bangsa.

Program beasiswa diberikan kepada mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif minimal 3,00. Penerima memperoleh bantuan pendidikan sebesar Rp800 ribu setiap bulan hingga delapan semester atau sampai lulus tepat waktu.

Penerima yang memiliki prestasi tambahan, seperti kemampuan bahasa Inggris melalui skor TOEFL, juga berpeluang memperoleh penghargaan dari pihak penyelenggara.

Selain bantuan pendidikan, VDMI menyelenggarakan berbagai program pengembangan kapasitas. Salah satunya adalah Writing Workshop yang berlangsung pada 21 hingga 23 April 2026. Program tersebut menjadi wadah untuk meningkatkan kemampuan menulis melalui platform Excellent Writing Club.

Melalui platform tersebut, peserta dapat mengirimkan berbagai karya, mulai dari opini, cerpen, karya tulis ilmiah, hingga tulisan kreatif lainnya. Seluruh naskah diseleksi oleh penyelenggara, kemudian dipilih karya terbaik untuk mengikuti Writing Workshop. Dari 107 karya yang dikirimkan, satu cerpen berhasil lolos seleksi dan mengikuti pelatihan.

Hari pertama diisi dengan materi kepenulisan bersama mentor tersebut yang dikenal sebagai jurnalis, pendidik, dan dosen di Yogyakarta. Materi berfokus pada teknik penulisan, proses kreatif, serta penguatan kualitas karya.

Hari kedua diisi dengan observasi lapangan di Yogyakarta. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan pengamatan, termasuk di Museum Gunung Merapi. Hasil observasi kemudian dikembangkan menjadi tulisan secara individu sebelum dipresentasikan dan memperoleh masukan dari mentor.

Hari ketiga difokuskan pada penyempurnaan karya hasil revisi yang kembali dipresentasikan untuk mendapatkan evaluasi lanjutan.

Seluruh rangkaian kegiatan memberikan pemahaman bahwa proses menulis memerlukan riset, observasi, identifikasi persoalan, serta pengolahan data sebelum dituangkan menjadi karya yang berkualitas.

Pengalaman mengikuti Writing Workshop menjadi bukti bahwa kemampuan menulis dapat berkembang melalui latihan, pendampingan mentor, dan pengalaman langsung di lapangan sehingga menghasilkan tulisan yang lebih akurat, mendalam, dan bernilai.