Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Buku kumpulan cerpen “Doa yang Terjebak di Jalan Sunyi” karya Maria R. N. Yoga dan kawan-kawan mengajak pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga melakukan perenungan terhadap makna yang tersirat di dalamnya.
Hal tersebut disampaikan Ni Made Ayu Anandini Saraswati Atmaja dalam talkshow Bicara Buku Buku Bicara (B4) yang digelar Radio TIRILOLOK, Minggu (19/7/2026).
Diskusi yang berlangsung di Studio Radio TIRILOLOK tersebut membahas buku dengan editor E. Nong Yonson. Dalam dialog interaktif itu, Anandini mengatakan judul buku telah menghadirkan pesan simbolis yang kuat sejak awal.
Menurut Anandini, kata “doa” dalam judul menggambarkan harapan dan keyakinan bahwa sesuatu akan terwujud pada waktu yang tepat. Sementara frasa “terjebak di jalan sunyi” menghadirkan ruang refleksi yang membuat pembaca merenungkan perjalanan setiap tokoh dalam cerita.
“Judulnya sendiri sudah mengajak pembaca untuk berpikir. Doa adalah sesuatu yang kita yakini akan sampai atau terkabul pada waktu yang tepat, tetapi perjalanan menuju ke sana bisa penuh dengan proses dan perenungan,” ujarnya.
Anandini menjelaskan, sebagian besar cerpen dalam buku tersebut menghadirkan akhir cerita yang jelas. Namun, terdapat satu cerita berjudul “Aku Tidak Pernah Lupa Malam Itu” yang menggunakan akhir terbuka.
Menurut Anandini, akhir cerita yang tidak memberikan kepastian justru menjadi daya tarik karena memberikan ruang kepada pembaca untuk menafsirkan sendiri perjalanan tokoh maupun pesan yang ingin disampaikan penulis.
“Yang menarik, ada cerita yang tidak ditutup dengan jawaban pasti. Pembaca diberikan kesempatan untuk menentukan bagaimana memahami nasib tokoh dan makna dari peristiwa yang terjadi,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut membuat karya sastra memiliki lapisan makna yang lebih luas. Cerita tidak hanya menyampaikan pesan secara langsung, tetapi juga menghadirkan pesan tersirat yang dapat ditemukan melalui proses membaca dan pemaknaan.
Dari sisi penyajian, Anandini menyebut buku tersebut relatif mudah dinikmati karena memiliki alur cerita yang mengalir.
Menurut Anandini, seluruh isi buku dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari karena setiap cerita tersusun dengan ritme yang ringan.
Ia juga menilai gaya bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami, sehingga sesuai bagi pembaca muda maupun pembaca yang baru mulai mengenal karya sastra.
“Yang jelas, bahasa yang digunakan tidak terlalu berat. Pembaca bisa mengikuti alurnya dengan nyaman karena pilihan katanya mengalir dan tidak membuat pembaca merasa kesulitan memahami cerita,” ujarnya.
Anandini menambahkan, beberapa cerpen dalam buku tersebut turut menggunakan bahasa daerah. Sebagian cerita dilengkapi dengan terjemahan, sementara bagian lainnya membiarkan pembaca memahami makna melalui konteks percakapan dalam cerita.
Menurut Anandini, penggunaan bahasa daerah menjadi salah satu kekayaan dalam buku tersebut. Meskipun pada awal pembacaan dapat menjadi tantangan bagi sebagian pembaca, konteks cerita tetap membantu menemukan maksud dari percakapan yang disampaikan.
Melalui talkshow B4, Radio TIRILOLOK menghadirkan ruang apresiasi sastra sekaligus mengajak masyarakat untuk melihat buku bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai media refleksi dan pemaknaan kehidupan.














