Perempuan Produktif, Mandiri, dan Tak Terjebak Stigma

Produktivitas Perempuan Sepanjang Hayat.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Menikah dan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga bukan alasan bagi perempuan untuk berhenti mengembangkan diri dan menjadi produktif. Perempuan tetap dapat berkarya sesuai kemampuan, minat, serta kondisi lingkungan masing-masing.

Hal tersebut disampaikan aktivis perempuan Paskalia Kopong dalam talkshow Viral NTT yang digelar Radio TIRILOLOK dengan tema Produktivitas Perempuan Sepanjang Hayat”, di Studio Radio TIRILOLOK, Sabtu (12/9/2026).

Lia mengatakan, perempuan yang telah berkeluarga memang memiliki tanggung jawab tambahan, terutama ketika telah memiliki anak. Namun, tanggung jawab tersebut tidak semestinya menjadi penghalang untuk tetap produktif.

Menurut Lia, produktivitas perempuan tidak selalu harus diwujudkan dengan beraktivitas di luar rumah. Dengan perkembangan teknologi, internet, dan kecerdasan buatan (AI), perempuan memiliki semakin banyak ruang untuk belajar dan berkarya dari rumah.

“Produktif itu tidak harus keluar dari rumah. Ada yang punya kesempatan dan didukung lingkungan untuk keluar dari rumah, tetapi ada juga produktivitas yang bisa dilakukan perempuan dari rumah,” ujarnya.

Ia menekankan, hal terpenting adalah kemauan perempuan untuk terus belajar serta memastikan aktivitas yang dilakukan memberikan manfaat, terutama bagi dirinya sendiri dan kemudian bagi orang lain.

Lia juga menyatakan stigma sosial yang masih membatasi perempuan, termasuk anggapan bahwa setelah menikah perempuan hanya berkutat pada urusan rumah tangga.

Menurut Lia, pendapat masyarakat akan selalu ada. Karena itu, perempuan tidak seharusnya menjadikan penilaian orang lain sebagai standar utama dalam menentukan arah hidupnya.

“Kalau pendapat orang menjadi standar hidup kita, kita tidak akan pernah menemukan standar yang tepat. Lebih baik kita membuat standar sendiri,” katanya.

Ia menilai media sosial juga dapat dimanfaatkan perempuan untuk membangun citra dan jejak digital yang positif. Ibu rumah tangga, misalnya, dapat membuat konten sesuai keahlian dan aktivitasnya, seperti memasak, membuat kue, berbagi hiburan, maupun berbagai pengalaman sehari-hari.

Menurut Lia, aktivitas tersebut juga merupakan bentuk produktivitas apabila dilakukan secara positif dan memberikan nilai bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lebih jauh, ia memandang produktivitas sebagai salah satu cara perempuan menjaga ruang bagi dirinya di tengah rutinitas keluarga.

Rutinitas rumah tangga yang berlangsung setiap hari, kata dia, dapat membuat seseorang mengalami kelelahan. Karena itu, perempuan perlu memiliki ruang untuk mengembangkan diri dan melakukan aktivitas yang memberi energi positif.

Lia menegaskan bahwa pernikahan tidak boleh dimaknai sebagai akhir dari cita-cita perempuan.

“Menikah bukan berarti mematikan mimpi seorang perempuan. Mimpinya tidak boleh mati,” tegasnya.

Ia juga mengajak perempuan untuk memperkuat faktor internal dalam menghadapi lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung perempuan untuk berkembang.

“Kalau lingkungan tidak mendukung, kita harus berusaha membuat lingkungan itu mendukung. Jangan sampai kalah dengan faktor eksternal. Faktor internal dari diri sendiri harus lebih kuat,” ujarnya.

Lia mengingatkan bahwa stigma terhadap perempuan kemungkinan akan tetap ada. Karena itu, perempuan perlu memiliki keberanian untuk menentukan pilihan hidup dan membangun identitasnya sendiri, tanpa terjebak pada pandangan lama yang membatasi perempuan hanya pada urusan rumah tangga.