Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Peringatan Hari Bumi pada setiap tanggal 22 April merupakan panggilan bagi masyarakat global untuk merefleksikan sekaligus menguatkan komitmen dalam menjaga keberlangsungan hidup bumi ke depan. Sejumlah seruan, pesan, dan harapan yang datang dari berbagai pihak akan konsistensi untuk merawat bumi merupakan tanda kepedulian terhadap kondisi kerusakan lingkungan dewasa ini.
Kepada Radio TIRILOLOK, RD Arnoldus Sofiano Boli Erap, Pastor Rekan Paroki St. Darius Riangpuho – Keuskupan Larantuka, memaknai peringatan Hari Bumi sebagai bukan sekadar sebuah peringatan tahunan yang lewat begitu saja. Baginya, momentum tersebut merupakan refleksi yang mengajak setiap pribadi untuk bertanya dengan jujur : bagaimana relasi generasi muda dengan bumi selama ini?
RD Fian – sapaan akrabnya–mencontohkan pandangan masyarakat Lamaholot (rumpun kelompok etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Alor) tentang bumi. Bagi masyarakat adat Lamaholot, bumi bukanlah benda mati. Ia adalah “ina” ibu yang memberi hidup, yang melahirkan, memelihara, dan menyediakan segala kebutuhan manusia. Relasi ini bukan relasi pemanfaatan, melainkan relasi kasih dan hormat.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa dalam kehidupan masyarakat Lamaholot, alam selalu diperlakukan dengan kesadaran sakral. Tanah, laut, hutan, dan segala isinya memiliki nilai yang melampaui fungsi ekonomis. Ada batas-batas yang dijaga melalui adat, ada ritus yang mengingatkan manusia akan posisinya, dan ada kesadaran bahwa merusak alam berarti merusak dirinya sendiri. Kearifan ini bukan warisan budaya semata, tetapi sebuah cara hidup yang telah terbukti menjaga keseimbangan selama generasi demi generasi.
Meski demikian, ia melihat perkembangan hidup manusia di tengah arus zaman yang sering kali menjauhkan manusia itu dari akar tersebut. Gaya hidup konsumtif, eksploitasi sumber daya tanpa kendali, dan sikap acuh terhadap lingkungan perlahan mengikis nilai-nilai yang pernah dijunjung tinggi. Kaum muda berada di persimpangan, antara melanjutkan warisan kearifan lokal atau tenggelam dalam arus yang merusak. Tak jarang tanp disadari, manusia sendiri pun menjadi bagian dari masalah yang sedang dikeluhkan.
RD Fian mengutip Paus Fransiskus, yang dalam terang ensiklik Laudato Si, mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang kini sedang terluka. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Ada yang salah dalam cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Oleh karenaitu, dibutuhkan apa yang disebut sebagai “pertobatan ekologis”, sebuah perubahan mendasar dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak terhadap bumi.
Dilanjutkannya, seruan tersebut sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Lamaholot. Apa yang diajarkan dalam Laudato Si menemukan gema yang kuat dalam kearifan lokal yang telah lama hidup : bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan bagian darinya. Manusia hidup dari bumi, bersama bumi, dan untuk bumi. Ketika relasi itu rusak, maka yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga masa depan manusia itu sendiri.
Untuk itu, RD Fian menekankan peran penting generasi muda untuk merawat bumi. Menurutnya, menjadi muda bukan hanya soal usia, tetapi tentang keberanian untuk memilih jalan yang benar, kendati tidak selalu mudah. Kaum muda dipanggil untuk menjadi generasi yang tidak hanya menikmati alam, tetapi juga merawatnya. Ia mendorong orang muda untuk memulai dari hal-hal kecil seperti mengurangi sampah, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan sumber daya secara bijak hingga berani bersuara dan menggerakkan orang lain untuk peduli.
Lebih dari itu, kaum muda juga dipanggil untuk menghidupi kembali nilai-nilai kearifan lokal yang kian terlupakan. Ia mengajak kawula muda untuk menghormati tanah sebagai ibu, menjaga laut sebagai sumber kehidupan, dan memandang alam sebagai bagian dari spiritualitas hidup. Ketika nilai-nilai itu dihidupi kembali, maka perjuangan menjaga lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan panggilan yang lahir dari kesadaran dan cinta.
RD Fian menyerukan bahwaHari Bumi pada akhirnya bukan tentang seremoni, melainkan perihal komitmen untuk berubah, peduli, dan bertindak. Dalam semangat masyarakat Lamaholot dan terang Laudato Si, setiap pribadi diingatkan bahwa merawat bumi berarti merawat kehidupan itu sendiri. Dan masa depan bumi sangat bergantung pada pilihan yang manusia buat hari ini.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa jika kaum muda berani mengambil peran, maka harapan akan tetap menyala. Sebab bumi tidak hanyamembutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga hati yang peduli dan tangan yang mau bekerja.
Adapun peringatan Hari Bumi pertama kali dilakukan pada tahun 1970 di Amerika Serikat dan mulai menyebar hingga di berbagai negara di seluruh belahan bumi hinggakini. Tahun ini, tema Hari Bumi internasional ialah“Our Power, Our Planet” yang berarti “Kekuatan Kita, Planet Kita”.














