Dili, TIRILOLOKNEWS.COM || INTERNASIONAL – Sebanyak 12 mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang mulai menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) internasional di Timor Leste.
Program yang berlangsung hingga Desember 2026 itu menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional di bidang pendidikan, pastoral, dan pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Wakil Ketua III STIPAS Keuskupan Agung Kupang Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, RD. Louis Monteiro, Pr, saat dihubungi melalui WhatsApp dari kawasan perbatasan Motaain ketika mengantar para mahasiswa menuju Timor Leste, Rabu (22/7-2026) mengatakan, program tersebut merupakan hasil kerja sama antara STIPAS, Pemerintah Timor Leste, dan Gereja Katolik di negara itu.
“PKL dan KKN internasional ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Pemerintah Timor Leste dan Gereja Katolik untuk mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, memperkuat kerja sama pastoral, serta meningkatkan keterampilan mahasiswa sebagai calon tenaga pendidik dan tenaga pastoral. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh pengalaman mengajar sekaligus pengalaman pelayanan pastoral,” ujar Romo Louis.
Ia menjelaskan, dari total 12 mahasiswa yang diberangkatkan, delapan orang ditempatkan di Dili, dua orang di Maliana, dan dua orang di Salele, Suai, Kabupaten Covalima.
Selama berada di Timor Leste, mereka akan mengajar di sejumlah sekolah sekaligus terlibat dalam pelayanan pastoral di paroki setempat.
Menurut Romo Louis, kerja sama internasional yang dibangun STIPAS tidak hanya terbatas di Timor Leste. Pada Agustus 2026 mendatang, empat mahasiswa juga dijadwalkan mengikuti program serupa di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
“Kerja sama ini akan terus kami kembangkan sebagai bagian dari upaya membangun dunia pendidikan sekaligus memperkuat panggilan pelayanan para mahasiswa,” katanya.
Dua mahasiswi yang menjalani PKL di Timor Leste, Joana Luruk Bria dan Kefin Pani, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti program internasional tersebut. Joana mengatakan, pengalaman ini menjadi ruang belajar yang penting untuk memperluas wawasan sekaligus melatih kemampuan mengajar dan melayani.
“Saya bersyukur bisa terlibat dalam program ini. Kami ingin belajar lebih banyak, terutama dalam pelayanan dan pendidikan, supaya nanti saat kembali ke masyarakat kami bisa memberi kontribusi yang lebih baik,” ujar Joana.
Sementara itu, Kefin menilai PKL di Timor Leste menjadi tantangan sekaligus kesempatan berharga untuk mengasah kesiapan diri sebagai calon pendidik dan pelayan pastoral.
“Tentu ada tantangan karena kami berada di lingkungan baru, tetapi kami siap beradaptasi dan memberikan yang terbaik. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” kata Kefin.
Melalui program ini, STIPAS berharap para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik dan profesional, tetapi juga semakin matang dalam pelayanan sebelum kembali mengabdi di tengah masyarakat.














