Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Isu pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores kembali menjadi perbincangan serius dalam sebuah Diskusi Publik bertema “Pengembangan Geothermal di Pulau Flores”, yang diselenggarakan di Aula Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang. Acara ini berlangsung secara luring dan daring, serta dihadiri oleh berbagai pihak dari kalangan pemerintah, akademisi, hingga masyarakat sipil.
Diskusi ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Johni Asadoma, M.Hum., yang hadir bersama Rektor UNDANA, Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc.
Beberapa tokoh penting di bidang energi dan sosial turut menjadi narasumber dalam kegiatan ini, di antaranya:
- Prof. Dr. Philipi De Rozari (Dekan Fakultas Sains dan Teknik UNDANA)
- Gigih Udi Atmo, Ph.D (Direktur Panas Bumi, Kementerian ESDM)
- Ir. Pri Utami, Ph.D., IPM (Ahli Geothermal, Universitas Gadjah Mada)
- Ir. M. Ali Ashar (Dosen Teknik Geothermal, ITB)
- Pater Feliks Baghy, SVD (Dosen IFTK Ledalero)
- Valens Dulmin, M.H. (Peneliti dan Koordinator Advokasi JPIC OFM)
- Dr. Rudi Rohi, M.Si. (Dosen FISIP UNDANA)
Tidak hanya itu, mahasiswa dari Fakultas Teknik Pertambangan, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro UNDANA juga ambil bagian dalam diskusi yang berlangsung dinamis ini.
Topik yang diangkat dalam diskusi menyoroti potensi besar energi panas bumi di Flores, sekaligus membahas resistensi sebagian masyarakat terhadap proyek-proyek geothermal, terutama karena kekhawatiran atas dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan.
Dalam sambutannya, Rektor UNDANA menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dan berpihak pada kepentingan masyarakat dalam setiap pengembangan energi. Ia menekankan bahwa peran universitas adalah menjadi pihak penengah yang objektif, yang tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai budaya dan lingkungan lokal.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknik UNDANA, Prof. Philipi De Rozari, menambahkan bahwa geothermal bukan sekadar soal teknologi dan ekonomi. “Isu sosial, budaya, serta tata kelola harus ikut dibahas secara akademik,” ujarnya.
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Nusa Cendana, yang tahun ini mengangkat tema “Growth Beyond Limit”.
Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma memaparkan data terkini terkait kapasitas listrik panas bumi di Pulau Flores. Ia menyebutkan bahwa saat ini terdapat dua pembangkit panas bumi aktif, yakni PLTP Ulumbu (10 MW) di Manggarai dan PLTP Sokoria (8 MW) di Ende, dengan total kapasitas 18 megawatt.
Namun, beban listrik di Flores telah mencapai 99,14 MW, dari total kapasitas sistem sebesar 104,2 MW. “Artinya, cadangan daya kita hanya sekitar 5,06 MW. Ini kondisi siaga,” ujarnya.
Sebagai solusi, pemerintah telah memasukkan rencana penambahan 177 MW kapasitas panas bumi ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Proyek ini bertujuan memperkuat pasokan energi, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Diskusi ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada para narasumber, disusul dokumentasi bersama yang melibatkan seluruh peserta. Seluruh rangkaian acara berjalan tertib, lancar, dan penuh antusiasme dari peserta yang hadir baik secara langsung maupun virtual.














