Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma menghadiri kegiatan Coffee Morning yang digelar di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat, (19/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang pemaparan capaian dan arah kebijakan Pemerintah Provinsi NTT selama periode Februari hingga Desember 2025.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan bahwa sejak awal kepemimpinannya, Pemprov NTT fokus mendorong penguatan ekonomi rakyat melalui program One Community One Product dan One School One Product. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi desa, sekolah, dan komunitas agar menghasilkan produk unggulan berbasis UMKM dan IKM yang siap masuk pasar.
“Sejak Februari kami mulai dorong potensi di tingkat desa, sekolah, dan komunitas agar menjadi produk unggulan. Saat ini sudah ada empat produk unggulan yang siap dipasarkan dan sekitar 190 UMKM yang terus kami dampingi, dan jumlah ini akan terus bertambah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hingga Desember 2025 pemerintah telah membangun sembilan NTT Mart yang tersebar di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Flores, Sumba, dan Rote sebagai pasar permanen produk UMKM lokal.
“Sampai hari ini sudah berdiri sembilan produk lokal sebagai etalase UMKM NTT. Ini kami siapkan sebagai pasar masa depan produk lokal, dan akan menyusul Manggarai Timur serta Manggarai Barat,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov NTT juga membangun Dapur Flobamorata di Kota Kupang sebagai bagian dari gerakan “Beli Produk NTT” serta memperkuat sektor pangan lokal. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp6 miliar untuk pengembangan hortikultura, penyuluhan pertanian, dan dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Penguatan pangan lokal kami kerjakan secara konsisten, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pasar. Ini menjadi fondasi ekonomi rakyat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam periode Februari–Desember 2025, Pemprov NTT juga menempatkan generasi muda dan perempuan sebagai motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata. Berbagai pelatihan kewirausahaan, inkubator bisnis, dan penguatan kapasitas telah dilaksanakan di Kupang dan sejumlah kabupaten/kota.
“Kami ingin anak muda dan perempuan benar-benar menjadi penggerak ekonomi lokal, terutama di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata,” ujarnya.
Di sektor pariwisata, Melki Laka Lena menyebutkan sejumlah event besar telah digelar, termasuk Tour de NTT yang melibatkan 80 pembalap dari 16 tim dan 13 negara serta disaksikan sekitar 25 juta penonton.
“Tour de NTT memang pertama kali kami gelar dengan berbagai keterbatasan, tetapi apresiasi yang kami terima sangat besar. Ke depan tentu akan kami perbaiki agar dampaknya bagi ekonomi masyarakat semakin kuat,” ujarnya.
Pemprov NTT juga memperkuat perlindungan sosial dan kesehatan. Sepanjang 2025, pemerintah provinsi terus mengalokasikan anggaran untuk membantu warga tidak mampu agar terdaftar dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, Pemprov meluncurkan program perlindungan bagi 100 ribu pekerja rentan bukan penerima upah.
“Kami membayar iuran bagi 100 ribu pekerja rentan. Jika mengalami kecelakaan kerja akan ditangani sampai sembuh, dan jika meninggal dunia keluarganya menerima santunan Rp42 juta serta beasiswa bagi anaknya,” ujarnya.
Penanganan stunting juga menjadi prioritas utama selama Februari–Desember 2025. Sekitar 10 ribu tenaga posyandu telah dilatih dengan dukungan APBD dan mitra LSM untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak.
“Kami pastikan seluruh posyandu di NTT siap menangani stunting dan masalah kesehatan lainnya. Angka stunting harus terus kita tekan,” ujarnya.
Di bidang pendidikan, Pemprov NTT menyiapkan 10 Sekolah Vokasi Unggulan berbasis potensi daerah yang akan mulai berjalan tahun depan. Sekolah ini menggunakan sistem asrama dan memanfaatkan potensi lokal seperti pertanian, peternakan, perikanan, energi terbarukan, hingga industri garam.
“Kami ingin anak-anak NTT bisa sekolah sambil mengelola potensi daerahnya, sehingga mereka bisa mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang tua,” ujarnya.
Untuk infrastruktur, Gubernur Melki menegaskan bahwa pembangunan jalan, air bersih, listrik, dan rumah layak huni tetap menjadi fokus. Pemprov NTT mengoptimalkan APBD dan anggaran pusat tanpa pinjaman, termasuk menerapkan skema gotong royong renovasi rumah tidak layak huni senilai Rp20 juta per unit.
“Kami akui belum semua jalan dan rumah bisa kami tangani, tetapi kami pastikan skema dan anggarannya terus kami siapkan agar manfaatnya semakin luas,” ujarnya.
Dalam rangka memperkuat kemandirian fiskal daerah, Pemprov NTT menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp1,4 triliun menjadi Rp2,8 triliun pada 2026.
“Kami kejar semua potensi PAD, tutup kebocoran, dan dorong inovasi. Jika PAD naik, pelayanan publik juga pasti lebih baik,” ujarnya.
Gubernur Melki juga menegaskan komitmen reformasi birokrasi dan digitalisasi pemerintahan melalui layanan pengaduan publik, transparansi proses, serta penguatan sistem Satu Data NTT.
“Kami ingin birokrasi yang terbuka, cepat, dan responsif terhadap keluhan masyarakat,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Gubernur Melki mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia usaha, akademisi, tokoh agama, media, dan diaspora NTT untuk terlibat aktif dalam pembangunan daerah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. NTT harus dibangun bersama, dengan kolaborasi dan sinergi semua pihak,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyoroti pentingnya perubahan pola konsumsi rumah tangga, terutama pengurangan belanja rokok dan pengalihan anggaran untuk pemenuhan gizi anak.
“Kalau belanja rokok dikurangi dan dialihkan untuk telur, ikan, dan daging, maka kesehatan dan pertumbuhan anak-anak kita akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perbaikan gizi anak merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NTT.














