Memurnikan Masa Lalu, Menyalakan Harapan Baru

Pelataran Kapela Kristus Raja Lamaole, salah satu stasi di Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang, Solor Barat, menjadi saksi bisu sebuah transformasi iman yang menyentuh hati pada malam pergantian tahun pada 31/12.

Larantuka, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –– Pelataran Kapela Kristus Raja Lamaole, salah satu stasi di Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang, Solor Barat, menjadi saksi bisu sebuah transformasi iman yang menyentuh hati pada malam pergantian tahun pada 31/12.

Dalam momen ini, umat setempat tidak sekadar merayakan malam pergantian tahun, tetapi secara khusus memfokuskan diri pada pembersihan batin dan peningkatan kualitas iman melalui rangkaian ibadat yang sarat akan makna simbolis.

Dalam ibadat pergantian tahun itu, umat diajak untuk menyucikan hati dari dosa dan “sampah” masa lalu agar siap melangkah dengan jiwa yang murni serta berdamai kembali dengan sesama, diri sendiri, dan dengan Tuhan. Ibadat ini juga menggunakan simbol-simbol nyata untuk menggambarkan perjalanan rohani umat seperti api unggun untuk membakar segala kegagalan masa lalu serta cahaya lilin sebagai lambang harapan baru yang menuntun langkah menuju tahun yang baru 2026.

Ibadat ini dilaksanakan setelah perayaan Ekaristi tutup tahun yang dipimpin oleh Pater Daniel Nara Gere, SVD di Kapela Kristus Raja Lamaole. Usai misa, suasana berubah menjadi lebih akrab sekaligus meditatif ketika umat berkumpul melingkar mengelilingi api unggun yang menyala di depan kapela.

Ibadat yang dipandu oleh Suster Shinta Melnie, ALMA ini melibatkan seluruh elemen umat, mulai dari anak-anak, Orang Muda Katolik Lamaole (OMK), hingga orang tua.

Api yang berkobar di tengah lingkaran bukan sekadar penghalau dingin malam, melainkan simbol pemurnian jiwa sesuai dengan tema renungan yang diangkat oleh Sr. Shinta, “Memurnikan Masa Lalu, Menyalakan Harapan Baru”.

Sr. Shinta memberikan penegasan iman yang mendalam berdasarkan pada Kitab Filipi 3:13-14. Melalui bacaan kitab suci ini, Sr. Shinta menegaskan bahwa pentingnya merefleksikan peristiwa masa lalu, baik itu pengalaman menggembirakan maupun pengalaman yang kurang menggembirakan seperti kegagalan, kehilangan orang yang kita cintai dan pengalaman pahit lainnya.

“Pengalaman buruk masa lalu tidak mesti harus dilupakan (amnesia). Pengalaman itu menjadi hikmah bagi perjalanan kita di tahun yang baru. Kita dipanggil untuk tidak terlalu larut dalam peristiwa yang sudah terjadi di belakang kita melainkan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapan kita, demi mencapai tujuan surgawi,” ujar Sr. Shinta.

Momen paling mengharukan terjadi saat Sr. Shinta mengarahkan umat untuk membakar kalender tahun 2025 ke dalam api unggun. Aksi simbolis ini merupakan bentuk pelepasan terhadap segala kesalahan, kekecewaan, dan luka yang terjadi sepanjang tahun 2025.

Setelah kalender lama hangus terbakar, umat menyalakan lilin masing-masing, sebuah tanda bahwa cahaya harapan baru telah dinyalakan di atas puing masa lalu.

Ia mengatakan bahwa eksistensi harapan baru bukan berarti tiadanya kesulitan di masa depan, melainkan kehadiran semangat spiritual dalam diri yang memampukan kita untuk tetap berdiri kokoh sekalipun diterjang badai kehidupan.

Ibadat yang berlangsung aman dan khidmat ini diakhiri dengan momen pemulihan batin, di mana seluruh umat saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai tanda pengampunan demi menyongsong tahun 2026 dengan hati yang murni.