Peringati Hari Komunikasi Sosial Sedunia, Paus Leo XIV Dorong Kemitraan Bersama

Pada peringatan tahun ini, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah pesan bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” tepat pada pesta peringatan St. Fransiskus de Sales (pelindung jurnalis, penulis, dan media Katolik) pada 24 Januari lalu.

Paus Leo XIV

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || INTERNASIONAL – Gereja Katolik memperingati Hari Komunikasi Sosial sedunia ke – 60 pada Minggu (17/05). Sejak pertama kali ditetapkan oleh St. Paus Paulus VI pada 7 Mei 1967 melalui Dekrit Inter Mirifica, Hari Komunikasi Sosial sedunia bertujuan untuk mendorong Gereja merefleksikan pentingnya pemanfaatan media komunikasi sosial demi evangelisasi di era modern.

Pada peringatan tahun ini, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah pesan bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” tepat pada pesta peringatan St. Fransiskus de Sales (pelindung jurnalis, penulis, dan media Katolik) pada 24 Januari lalu.

Dalam pesan itu, Bapa Suci menyoroti wajah dan suara sebagai ciri khas setiap orang, yang menunjukkan jati diri yang unik dan tak tergantikan serta menjadi dasar bagi setiap perjumpaan antarmanusia. Ia menekankan bahwa wajah dan suara merupakan anugerah dari Allah yang harus dijaga sebagai tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus.

Di tengah perkembangan zaman saat ini, Paus melihat teknologi digital dapat mengubah secara mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering dianggap sepele. Bahkan dengan semakin masifnya sistem kecerdasan buatan, Paus menilik potensi gangguan dalam proses manusia menerima informasi, juga terkait lapisan terdalam komunikasi manusia, yakni hubungan antarpribadi.

Lebih lanjut, Paus ke-267 dalam Gereja Katolik itu mencermati algoritma media sosial yang kian melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat. Dengan ketergantungan pada kecerdasan buatan, manusia semakin kehilangan kecakapan dalam berpikir analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara bahasa dan arti yang sesungguhnya.

Paus juga menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks, musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih. Sementara itu, karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.

Tak berhenti sampai di situ, Paus Leo XIV memaparkan tentang teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi, tidak hanya dapat membawa dampak menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengklasifikasikan pikiran dan membangun dunia cermin, di mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa manusia sendiri”. Dengan cara ini, manusia kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda darinya —padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah manusia belajar berdialog. Ia menggarisbawahi, tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati maupun persahabatan.

Menghadapi situasi itu, Paus mengajak umat manusia untuk dengan bijaksana menggunakan teknologi dan menyadari bahwa teknologi memiliki sisi ganda. Ia mengundang setiap orang untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi sungguh dapat diterima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman. Untuk itu, Bapa Suci mendorong terjalinnya kemitraan yang dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

Ditegaskannya bahwa setiap orang dipanggil untuk bekerja sama, sebab tidak ada satu sektor pun yang mampu sendirian menghadapi tantangan dalam mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama. Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.

Paus pertama dari Amerika Serikat itu mendesak para pemangku kepentingan untuk memahami pentingnya memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil.

Kepada umat Katolik, Paus menyerukan agar dapat dan harus berkontribusi, terutama kaum muda, untuk bertumbuh dalam kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi itu juga perlu menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Di akhir pesannya, Bapa Suci memfokuskan bahwa manusia masa kini membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia yang sesungguhnya, dengan menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.

Adapun Hari Komunikasi Sosial Sedunia diperingati setiap tahunnya bertepatan dengan Hari Minggu Paskah ketujuh atau Hari Minggu sebelum Hari Raya Pentakosta.