Dari Kupang ke Melbourne, Tia Ragat Buktikan Konsistensi Belajar Jadi Kunci Raih Impian

Gadis bernama lengkap Kristiani Adventya Melani Ragat itu merupakan alumni angkatan 2018 yang saat ini tengah melanjutkan studi di negeri tetangga, Australia.

Kristiani Adventya Melani Ragat, S.I.Kom - alumni UNWIRA Kupang yang tengah menempuh pendidikan di The University of Melbourne, Australia

Melbourne, TIRILOLOKNEWS.COM || INTERNASIONAL – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang kembali menorehkan pencapaian membanggakan. Berkiprah selama lebih dari 43 tahun, perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus (YAPENKAR) Kupang itu berhasil menetaskan program studi (prodi) perdana yang meraih status Akreditasi Unggul.

Prodi tersebut ialah Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Menjadi sulung di antara prodi lainnya di lingkup UNWIRA, Prodi Ilmu Komunikasi telah melahirkan ratusan alumni dari generasi ke generasi, yang kini telah berkarya dalam aneka bidang.

Salah seorang alumni Prodi Ilmu Komunikasi UNWIRA yang cukup banyak tersorot ialah Tia Ragat. Gadis bernama lengkap Kristiani Adventya Melani Ragat itu merupakan alumni angkatan 2018 yang saat ini tengah melanjutkan studi di negeri tetangga, Australia.

Bukan tanpa alasan, Tia memang sudah sering mencatatkan namanya pada papan prestasi semasa masih menempuh studi pada jenjang S1. Tahun 2018, Tia mewakili Indonesia dalam Konferensi Korea International Culture and Education di Korea Selatan. Tia juga sempat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Angkatan 1 Kampus Merdeka dan selama 4 bulan merasakan atmosfer studi di Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan London School of Public Relation (LSPR) Jakarta pada 2021. Pada tahun yang sama, Tia menyabet Juara 1 News Anchor Hunt Kompas TV dan Juara 1 Video Kampanye Literasi Kantor Bahasa NTT.

Selama dua tahun berturut-turut, Tia menerima Beasiswa Profesional XL-Future Leaders Batch 9 dari XL Axiata, yakni pada 2020-2022. Bersama kedua rekannya, Tia memboyong penghargaan sebagai Juara Favorit PKMPSH3 pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-33. Ia juga aktif menulis dan terlibat dalam komunitas sastra. Puncaknya, Tia dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik FISIP pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka Wisuda Sarjana Angkatan LXVI dan Pascasarjana Angkatan XXXVIII UNWIRA periode Oktober 2022.

Usai berhasil menggondol gelar dari UNWIRA, Tia memutuskan untuk memulai petualangan kariernya dengan cara yang berbeda. Alih-alih bekerja dari balik meja kantor, ia memilih memanfaatkan koneksi digitalnya untuk merambah peruntungan yang lebih besar. Ia kemudian bergabung dengan sebuah Start Up dari Singapura yang bergerak di bidang teknologi pendidikan dan kewirausahaan sosial. Sistem remote working memungkinkannya untuk dapat melakonkan pekerjaannya itu, tanpa harus menetap di negara tersebut.

Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister berangkat dari sebuah impian yang sudah sejak dahulu kala ia rawat dalam benaknya. Biarpun bukan pertama kali menginjakkan kaki di negara orang, namun jebolan SMA Negeri 1 Kupang itu tetap konsisten pada cita-citanya untuk menembus perjalanan internasional lainnya. Pilihannya jatuh pada sebuah perguruan tinggi yang dikenal sebagai nomor satu di Australia, yakni The University of Melbourne (UniMelb).

Melanjutkan fokus pembelajarannya di bidang Ilmu Komunikasi, Tia mengambil Program Studi Global Media Communication. Ia adalah penerima Beasiswa Lembaga Penyedia Dana Pendidikan (LPDP) Daerah Afirmasi, sebuah program bantuan biaya pendidikan dari Pemerintah Indonesia. Setelah mengikuti berbagai proses seleksi, Tia dipanggil untuk bergabung dalam kegiatan Pengayaan Bahasa, sebuah agenda besar LPDP yang bertujuan untuk mengintesifkan kemampuan berbahasa Inggris bagi para awardee Daerah Afirmasi.

Kecintaannya pada Ilmu Komunikasi berawal dari ketertarikannya pada sosok Najwa Shihab, yang dinilainya kritis menyikapi aneka persoalan sosial-politik dan berani menyuarakannya di media masa. Karena itulah, Tia jatuh hati pada Prodi Ilmu Komunikasi UNWIRA yang disebutnya mampu memberikan ruang baginya untuk membangun pikiran kritis melalui budaya akademik yang unggul dan disiplin. Sebagai lembaga Pendidikan Tinggi Katolik yang lahir dari rahim Serikat Sabda Allah (SVD – Societas Verbi Divini), Tia melihat UNWIRA tidak hanya sebagai tempat belajar, namun juga wadah untuk membentuk pribadi yang berkarakter Kristiani dan humanis. Tak heran, motto UNWIRA, yaitu Ut Vitam Habeant Abundatius – Supaya Mereka Memiliki Hidup yang Berlimpah – menjadi inspirasi baginya untuk terus melangkah maju dan menggali potensi dirinya lagi dan lagi.

Perjumpaan pengalamannya bersama ragam pengetahuan dan peristiwa selama menempuh pendidikan di UNWIRA menjadi amunisi penting bagi Tia untuk meneruskan tapak perjuangannya. Sebelum menetapkan pilihannya pada UniMelb, Tia telah melakukan riset mendalam yang menguatkan preferensinya pada kampus bergengsi yang berdiri sejak 1853 itu. Menurutnya, UniMelb memiliki tradisi akademik yang kuat, ditambah komitmen dan konsistensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan mendorong para civitas akademikanya untuk tekun menumbuhkan wawasan sesuai dimensi keilmuannya masing-masing.

Tidak hanya itu, UniMelb dikenal dengan keseriusannya mengurusi persoalan kekerasan seksual yang kerap menjadi momok menakutkan di lingkungan kampus. Bagi Tia, hal itu menjadi kesungguhan UniMelb untuk menciptakan iklim belajar yang nyaman dan aman bagi siapa saja. Khusus pada prodi yang diterjuninya, Tia tak sekadar mendapatkan fasilitas pendukung yang mumpuni, namun juga kehadiran tutor dan tim profesional yang gigih memberikan pelatihan dan pendampingan bagi mahasiswa dan mahasiswinya. Lebih lanjut, Tia juga membagikan keseruannya saling berbagi informasi bersama rekan-rekannya dari berbagai negara lainnya, terutama terkait eksistensi dan dinamika media komunikasi yang berbeda antar negara tersebut.

Sebagai seorang mahasiswi internasional, Tia memaknai dirinya sebagai subjek global yang tidak terlepas dari latar belakang dan akar budayanya. Perjumpaan lintas budaya dengan sesama menjadikannya lebih banyak menggali perspektif baru yang memperkaya horizon kecapakan komunikasinya. Anak kedua dari tiga bersaudara itu tak lantas mengabaikan keberadaannya yang tidak terpisahkan dari keluarganya. Kendati jauh dari rumah, Tia tetap mendapati dukungan keluarga sebagai sebuah bekal yang memacunya untuk selalu meningkatkan kompetensi diri dari waktu ke waktu.

Kepada UNWIRA, Tia berterima kasih karena pernah menjadi bagian dari komunitas akademik yang mengantarkannya melihat dunia yang lebih luas. UNWIRA disebutnya menjadi titik di mana ia mulai membangun relasi dan jejaring dengan banyak pihak dan komunitas, termasuk Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang mempertajam kemampuannya di bidang sastra. Ia bahkan aktif menjadi volunteer pada Melbourne Writers Festival, yang membawanya akan ingatan pada festival sastra lain yang pernah digelutinya. Di UNWIRA, ia juga terlibat dalam pelbagai kegiatan dan perlombaan yang menjadi ajang untuk mengelaborasi kapasitas akademik dan non-akademiknya.

Tia memang bukan alumni pertama dari UNWIRA yang berhasil menuliskan namanya pada sebuah kampus kenamaan dunia, tapi Tia menjadi salah satu kebanggaan UNWIRA, yang pernah mendiami rahim UNWIRA, yang ikut memperkenalkan UNWIRA kepada dunia. Tia berharap, semakin banyak mahasiswa/i UNWIRA yang berani mendengarkan panggilan dalam dirinya untuk mengembangkan minat dan bakatnya sesuai apa yang diinginkannya. Kepada alumni lainnya, Tia berpesan agar tidak sibuk membandingkan diri dengan siapa pun dan mempercayakan waktunya masing-masing, sebab setiap orang berjalan pada lajur waktu yang berbeda satu dengan yang lain.

Tia percaya, ketekunan adalah kunci untuk menggapai cita-cita. Komitmen untuk berani memulai memang sangat dibutuhkan sebagai pegangan awal, namun lebih daripada itu, konsistensi untuk terus berkarya adalah kewajiban yang harus digenggam oleh siapa saja. Tidak ada mimpi yang terlalu akbar bagi mereka yang punya doa dan usaha besar.