Radio TIRILOLOK menggelar program Gen-Z Bicara bertema “Mengenal Spiritualitas Bruder Keluarga Kudus” bersama Br. Sandro Jeharu dan Br. Kanisius Kamunala dari Komunitas Bruder Keluarga Kudus, Rabu, (6/5/2026), di Studio Radio TIRILOLOK.
Dalam dialog interaktif tersebut, Br. Sandro Jeharu membagikan perjalanan panggilannya sebagai bruder. Ketertarikan terhadap kehidupan rohani mulai tumbuh sejak sekolah dasar melalui keterlibatan dalam persiapan liturgi dan perayaan Ekaristi.
“Saya mulai tertarik dengan kehidupan rohani sejak masih SD karena sering terlibat dalam persiapan liturgi dan perayaan Ekaristi di gereja,” ujar Br. Sandro.
Keinginan masuk seminari sempat muncul setelah mendapat tawaran dari guru agama untuk melanjutkan pendidikan di Seminari Kisol. Namun, rencana itu tidak terlaksana karena kendala biaya pendidikan.
“Saya pernah mendapat tawaran untuk masuk Seminari Kisol, tetapi saat itu terkendala biaya pendidikan,” katanya.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah umum hingga menempuh studi di SMK Sadar Wisata Ruteng. Menjelang kelulusan, panggilan hidup membiara kembali muncul meski pilihannya sempat dipertanyakan karena latar belakang pendidikan pariwisata identik dengan dunia kerja.
“Banyak yang bertanya kenapa memilih hidup membiara padahal sekolah di jurusan pariwisata. Namun, saya merasa panggilan itu kembali hadir,” ungkapnya.
Ketertarikan untuk menjadi bruder semakin kuat setelah mengikuti promosi panggilan Bruder Keluarga Kudus pada 2022.
Kesederhanaan dan keteladanan bruder promotor panggilan mendorongnya bergabung dalam tarekat tersebut.
“Saya melihat sosok bruder yang sederhana dan menjadi teladan. Dari situ saya semakin yakin untuk bergabung,” tutur Br. Sandro.
Pada 17 Juli 2022, Br. Sandro resmi memulai masa formasi di Maumere bersama 22 calon bruder asal Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, Br. Kanisius Kamunala menjelaskan bahwa FSF atau Frateli de la Sagrada Familia berarti Saudara-saudara Keluarga Kudus. Kongregasi itu didirikan oleh Bruder Gabriel Taborin di Belley, Prancis.
“FSF memiliki tiga fokus pelayanan utama, yakni pendidikan, pastoral, dan liturgi,” jelas Br. Kanisius.
Menurutnya, kongregasi tersebut lahir dari kepedulian Bruder Gabriel terhadap anak-anak pasca Revolusi Prancis yang mengalami keterbatasan akses pendidikan.
Saat ini, FSF berkarya di empat benua dan tersebar di 19 negara. Di Asia, pelayanan berlangsung di India, Filipina, Timor Leste, dan Indonesia. Kehadiran FSF di Indonesia dimulai pada 2011 melalui rumah formasi di Maumere dan rumah studi di Kota Kupang.
“Bruder dalam Gereja Katolik menjalani hidup bakti melalui kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan tanpa menerima tahbisan imam,” tambahnya.














