Jus Pepaya Hijau, Inovasi Berbasis Pangan Lokal yang Diproyeksikan Mengharumkan Nama NTT

Pepaya hijau dipilih karena mudah diperoleh, murah, bahkan banyak tersedia di pekarangan rumah warga.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Berawal dari sebuah gagasan sederhana yang muncul dalam seminar kewirausahaan, empat mahasiswa Program Studi Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang berhasil mengembangkan inovasi jus berbahan dasar pepaya hijau atau pepaya mentah yang diproyeksikan menjadi produk unggulan berbasis pangan lokal. Inovasi tersebut bahkan diklaim sebagai yang pertama di dunia dan kini dipersiapkan menuju pengurusan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta pendaftaran hak paten.

Di balik lahirnya inovasi tersebut terdapat peran Injeksi Creative Center atau Injeksi Laptop Kupang yang selama ini dikenal sebagai pusat penjualan laptop dengan slogan “Laptop Bos, Harga Kos”. Selain bergerak di bidang teknologi, lembaga ini juga aktif membina generasi muda melalui seminar kewirausahaan, pelatihan public speaking, kepemimpinan, literasi digital, branding usaha hingga pendampingan pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Direktur Utama Injeksi Creative Center, Jeksi Siokain, mengatakan ide jus pepaya hijau sebenarnya telah ia gagas sejak 2021. Namun, menurutnya, gagasan tersebut baru mendapat sambutan serius setelah dipresentasikan dalam seminar kewirausahaan di Poltekkes Kemenkes Kupang pada Juli 2026.

“Kurang dari satu bulan setelah seminar, mahasiswa berhasil merealisasikan ide ini menjadi sebuah produk yang bisa langsung dinikmati,” kata Jeksi kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (1/8/2026).

Ia menjelaskan, sebanyak 81 mahasiswa sempat mengikuti proses seleksi mulai dari penyusunan konsep, penyempurnaan resep hingga uji respons masyarakat melalui media sosial. Dari proses tersebut kemudian dipilih empat mahasiswa terbaik yang berhasil mengembangkan produk hingga tahap akhir.

Menurut Jeksi, pengembangan jus pepaya hijau tidak sekadar menghadirkan varian minuman baru, tetapi juga mengusung tiga tujuan utama, yakni menyediakan minuman sehat dengan harga terjangkau, menggunakan lebih dari 90 persen bahan alami tanpa pemanis maupun pengawet buatan, serta memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan masyarakat.

“Selama ini jus identik dengan harga Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Saya berpikir bagaimana membuat jus yang harganya di bawah Rp10 ribu sehingga masyarakat menengah ke bawah juga bisa menikmati minuman sehat,” ujarnya.

Ia mengatakan, pepaya hijau dipilih karena mudah diperoleh, murah, bahkan banyak tersedia di pekarangan rumah warga.

“Kalau nanti resep ini sudah dipatenkan, kami ingin membagikannya kepada masyarakat sehingga warga di desa-desa juga bisa membuat jus sendiri tanpa harus membeli minuman modern yang mahal,” katanya.

Selain sebagai inovasi pangan lokal, produk tersebut juga dipersiapkan menjadi peluang usaha bagi mahasiswa.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan tim pendamping, keuntungan penjualan diperkirakan mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000 per gelas. Dengan penjualan sekitar 20 gelas per hari, mahasiswa berpotensi memperoleh penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Jeksi menegaskan komitmen pendampingan Injeksi Creative Center tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar.

“Kami tidak hanya memberikan ide, tetapi mendampingi sampai produk jadi. Setelah ini kami akan menyempurnakan produk para pemenang, kemudian mengurus izin BPOM dan mendaftarkan hak paten agar inovasi ini memiliki perlindungan hukum dan bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Apt. Ni Nyoman Yuliani, S.Si., S.Farm., M.Si., menilai inovasi tersebut merupakan contoh nyata pemanfaatan potensi pangan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian masyarakat.

Menurutnya, pepaya hijau selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayuran, padahal memiliki kandungan vitamin, antioksidan, serta senyawa aktif yang bermanfaat membantu kesehatan, terutama sistem pencernaan.

“Melalui kegiatan ini masyarakat diedukasi bahwa bahan pangan lokal memiliki manfaat kesehatan yang besar apabila diolah secara ilmiah dan inovatif. Ini juga mendorong masyarakat kembali memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar,” katanya.

Menanggapi anggapan masyarakat mengenai getah pepaya yang dapat menimbulkan rasa gatal, Nyoman menjelaskan salah satu tim mahasiswa berhasil menemukan metode untuk menghilangkan getah tersebut.

Ia mengatakan, pepaya hijau direbus terlebih dahulu selama sekitar 30 menit sebelum diolah sehingga getahnya berkurang dan tidak lagi memengaruhi rasa maupun kenyamanan saat dikonsumsi.

Salah seorang mahasiswa pengembang produk, Christo Dwi Mahendra Mbura, mengatakan proses pengembangan dimulai setelah dirinya mengikuti seminar kewirausahaan yang diselenggarakan di kampus pada Juli lalu.

Ia bersama tim kemudian melakukan berbagai percobaan untuk menemukan formulasi terbaik, terutama dalam menghilangkan getah pepaya agar menghasilkan cita rasa yang lebih baik tanpa mengurangi kandungan gizinya.

“Awalnya kami mencoba berbagai metode. Salah satunya merebus pepaya untuk menghilangkan getahnya sehingga lebih nyaman dikonsumsi,” katanya.

Christo menjelaskan, jus pepaya hijau mengandung enzim papain dan karpain yang membantu proses pencernaan.

Produk tersebut juga dipadukan dengan daun kelor sebagai pewarna alami sekaligus penambah nutrisi serta gula merah yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding gula pasir.

Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda agar berani memanfaatkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

“Jangan takut mencoba. Banyak bahan yang selama ini dianggap biasa ternyata bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi kesehatan sekaligus memiliki nilai jual,” ujarnya.

Ke depan, Injeksi Creative Center bersama Poltekkes Kemenkes Kupang berencana menyempurnakan formulasi produk, mengurus legalitas melalui BPOM dan pendaftaran hak paten, sehingga inovasi jus pepaya hijau tersebut dapat diproduksi secara lebih luas serta menjadi salah satu produk unggulan berbasis pangan lokal dari Nusa Tenggara Timur.