Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Kondisi ekonomi keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi tekanan, ditandai dengan tingginya angka kemiskinan, inflasi, dan kerentanan ekonomi masyarakat pedesaan. Gereja dan koperasi kredit (credit union) dinilai memiliki peran penting untuk menghadirkan jalan keluar dan harapan bagi keluarga yang terdampak.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus KSP Kopdit Solidaritas Santa Maria Assumpta, Herman Seran, ST., M.Sc., dalam Talkshow TIRILOLOK Solidarity Hour yang diselenggarakan Radio TIRILOLOK, Jumat, (7/8/2026).
Acara Talkshow mengangkat tema “Menghadapi Krisis Ekonomi Keluarga: Bagaimana Gereja dan Credit Union Menjadi Jalan Harapan.”
Dalam dialog interaktif, Herman mengawali penjelasannya dengan merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kondisi kemiskinan di NTT.
Ia menyebut sekitar 17,5 persen penduduk NTT atau sekitar 1,3 juta orang masih berada dalam kategori miskin. Kondisi tersebut, menurutnya, lebih terasa di wilayah pedesaan karena masyarakat desa memiliki tingkat kerentanan ekonomi yang tinggi.
“Ketika ada perubahan sedikit di ekonomi, mereka akan cepat bergeser,” ujar Herman.
Herman juga menyoroti inflasi NTT yang menurutnya berada di kisaran 3,42 persen, dengan kebutuhan pokok, khususnya pangan dan bahan bakar, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhinya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi NTT dinilai relatif positif, berada di kisaran 5,14 hingga 5,32 persen. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan persoalan kemiskinan dan kerentanan ekonomi keluarga.
Menurut Herman, perbedaan kondisi ekonomi antara masyarakat desa dan kota juga dipengaruhi oleh akses terhadap kebutuhan pangan. Masyarakat desa masih memiliki peluang memproduksi sebagian kebutuhan pangan sendiri, sementara masyarakat perkotaan lebih bergantung pada pembelian.
“Orang desa bisa memproduksi sendiri, tetapi di kota tidak ada pilihan lain, harus beli,” jelasnya.
Karena itu, Herman menilai situasi tersebut perlu menjadi keprihatinan bersama, termasuk bagi Gereja dan gerakan koperasi kredit. Keduanya diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam membantu keluarga menghadapi tekanan ekonomi sekaligus membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi masyarakat.














