Namaku Yemima Bili, mahasiswi Universitas Katolik Weetabula. Saya berasal dari kabupaten Sumba Barat, tepatnya di kota kecil yang indah, Waikabubak, kecamatan Tana Righu. Perjalanan ini adalah yang pertama bagiku—keberangkatan yang membuat jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Saya adalah salah satu mahasiswi yang terpilih untuk mengadakan magang di Radio TIRILOLOK Swara Verbum, Kupang. Saya bersama teman saya Efania yang diantar sendiri oleh Pak Paul Kamuri menuju bandara Weetabula. Momen itu terasa begitu mendebarkan, bukan hanya karena ini adalah pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah, tetapi juga karena aku harus berpisah sementara dengan keluarga yang begitu kusayangi. Di bandara Weetebula, ada sejumput kegembiraan yang tertangkap dalam foto-foto terakhir bersama orang tua dan saudara-saudaraku. Namun, saat aku melangkah masuk ke ruang tunggu, perasaan tak percaya mulai menggelayut. Benarkah aku akan pergi jauh dari mereka?
Ketika pesawat mulai meninggalkan landasan tanah tercintaku Sumba, hatiku dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Air mata perlahan mengalir saat bayanganku akan mereka yang baru saja aku peluk menyelimuti pikiranku. Naamun, perjalanan harus berlanjut. Hanya kurang dari sejam, kami telah tiba di Bandara El Tari Kupang. Rasanya seperti mimpi untuk pertama kali melihat Kota Kupang. Bagaimana bisa aku berpindah dari pesawat yang sempit ini ke ruangan bandara yang begitu luas? Dengan perasaan sedikit bingung, aku mulai menuruni tangga eskalator, langkah pertamaku di atas benda yang bergerak sendiri. Rasanya jantungku mau tercopot. Kakiku ikut bergemetar tanpa alasan. Sungguh, pengalaman ini penuh kejutan!
Di pintu keluar bandara, rasa senang muncul kembali saat melihat tanteku yang sudah menunggu dengan sabar. Dia menyambutku dengan senyuman manisnya seperti biasa. Saya pun menyerahkan kiriman dari Sumba buat kaka. Setelah berbagi canda dan beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir kami yaitu Radio TIRILOLOK Swara Verbum, Kupang. Pak Paul yang dengan setia mendamping kami, kembali menanyakan keadaan kami, sebelum kami menjawabnya tentang keadaan kami, dia terus mengatakan bahwa kami Sudah harus berangkat dan dia pun memesan taksi online. Selang beberapa menit kemudian kami tiba di tempat magang kami, Radio TIRILOLOK Swara Verbum, Kupang. Di tempat ini, dengan segala keramahan para kru, langsung membuatku jatuh hati. Dari sambutan hangat hingga perkenalan dengan Pater Dismas yang ramah, semua terasa begitu menyenangkan. Kami pun diajak untuk melihat ruangan-ruangan para kru bekerja termasuk ruangan untuk kami bekerja nanti. Ketika kami diantar ke ruang studio Radio TIRILOLOK, terdengar suara penyiar yang mempersona, membuatku semakin kagum. Melihat peralatan teknologi yang luar biasa, saya berkata dalam hati, “Puji Tuhan saya senang magang di Radio TIRILOLOK Swara Verbum. Di situlah rasa jatu cintaku semakin mendalam.
Setiap hari di Radio TIRILOLOK Swara Verbum, Kupang adalah pengalaman baru yang penuh dengan pembelajaran. Aku dan Efa, teman magangku bertemu banyak orang, termasuk seorang Frater namanya Frater Loys. Ia orangnya yang ramah dan penuh canda. Kami pun sering kali tertawa bersama, terutama saat mendengar logat kami yang khas Sumba yang bilang terdengar mirip dengan logat Sunda, demikin ujar kaka Delvin salah satu kru. Tak lama kemudian, datanglah Ibu Erny, salah satu kru senior yang sering dengan sapaan manisnya “Ma Erny” mengatakan memang benar orang Sumba dan orang Sunda logatnya mirip.
Petualangan kami tidak berhenti di sana. Pada hari Selasa sore, tanggal 27 Agustus, 2024 saya bersama teman Efa ditugaskan untuk bersama Frater, Kak Felix dan Kak Ketrin berangkat menuju SMA Katolik Giovanni Kupang. Di sana tempatnya sangat bagus, rame, karena ada SMP, SMA dan juga Kampus UNIKA, Kupang. Siswa-siswi kelihatannya sangat senang dengan suasana sekolah. Suasana sekolah yang ramai dan penuh kegembiraan membuatku kagum. Di sana, kami disambut oleh kepala sekolah yaitu Romo Stefanus Mau, Pr., Ibu Agnes Sadiku dan pak Niko Laghu guru-guru lainnya dengan senyum ceria. Momen itu menjadi lebih istimewa karena kami boleh menyaksikan wawancara live dari Radio TIRILOLOK yang dilakukan oleh Frater Loys. Saya mulai belajar bagaimana menjadi penyiar radio, ketika harus membuat “Live Report”. Frater melaporkan langsung tentang semua kegiatan menyongsong perayaan ulang tahun sekolah yang ke-62.
Perjalanan ini bukan hanya tentang pergi jauh, tetapi juga tentang menemukan kebahagiaan dalam setiap langkah kecil di tempat yang baru. Kupang telah membuka mata dan hatiku, memberi ruang bagi petualangan dan kenangan yang akan selalu kukenang dan kurindukan. Inilah sekilas pengalaman awalku di kota Kupang, tanah Timor manis e.














