OELAMASI, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Galon air mineral bekas yang biasanya hanya menumpuk menjadi sampah kini berubah fungsi di tangan mahasiswa dan warga Desa Nitneo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada Jumat (26/6/2026), sebanyak 10 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang bergotong royong bersama 10 warga setempat menyulap galon bekas menjadi tempat sampah terpilah berdasarkan jenisnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) melalui skema Pemberdayaan oleh Mahasiswa Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Dusun 2 dan Dusun 4 Desa Nitneo itu menghadirkan mahasiswa lintas program studi, yakni Manajemen, Akuntansi, serta Pendidikan Kimia.
Mereka memanfaatkan galon air kemasan bekas sebagai wadah untuk lima kategori sampah, yaitu limbah elektronik (electronic waste), kaleng, kertas, botol plastik, dan kantong plastik.
Program Pemberdayaan Mahasiswa merupakan salah satu skema pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat dari Dikti yang dirancang untuk mendorong mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung di tengah masyarakat.
Dukungan pendanaan dari Dikti pada tahun 2026 ini memungkinkan mahasiswa Unwira menghadirkan solusi nyata atas persoalan pengelolaan sampah yang dihadapi warga Desa Nitneo.
Tidak hanya itu, ember bekas turut dimanfaatkan sebagai wadah khusus sampah sisa makanan yang nantinya akan diolah menjadi pupuk cair. Dengan demikian, hampir seluruh jenis sampah rumah tangga warga memiliki tempat pembuangan tersendiri sesuai jenisnya.
Pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi inti dari kegiatan ini.
Dengan menyediakan lima jenis tempat sampah, warga diharapkan mulai terbiasa memisahkan sampah sesuai jenisnya, sehingga limbah yang masih bernilai ekonomi dapat didaur ulang, sementara sampah organik tidak terbuang sia-sia.
“Kami ingin menunjukkan bahwa barang yang dianggap tidak berguna seperti galon dan ember bekas sebenarnya masih punya manfaat besar.
Dari sini, warga juga belajar memilah sampah dengan lebih mudah,” ujar Kristian Elprado Felandro salah seorang mahasiswa prodi Manajemen Unwira peserta kegiatan.
Kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi nilai tambah dalam kegiatan ini.
Mahasiswa Pendidikan Kimia berperan menjelaskan proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair, sementara mahasiswa Manajemen dan Akuntansi membantu warga memahami potensi nilai ekonomi dari pengelolaan sampah terpilah, termasuk peluang menabung melalui bank sampah.
Antusiasme juga datang dari warga Dusun 2 dan Dusun 4 yang turut terlibat langsung sejak proses pembuatan hingga pemasangan tempat sampah.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar membersihkan lingkungan, melainkan menanamkan kebiasaan baru dalam mengelola sampah rumah tangga.
Pupuk cair yang dihasilkan dari sampah sisa makanan rencananya dapat dimanfaatkan kembali oleh warga untuk kebutuhan pertanian dan tanaman di pekarangan rumah.
Dengan demikian, sampah organik yang selama ini dibuang justru berbalik memberi manfaat bagi warga.
Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana program Pemberdayaan oleh Mahasiswa yang didanai Dikti mampu mendorong sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk melahirkan solusi sederhana namun berdampak bagi persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan di banyak desa di Nusa Tenggara Timur.














