Dari Petani Manggarai ke Produk Bernilai Jual, Mahasiswa UNWIRA Kembangkan Komag Coffee

Komag Coffee.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Kopi Manggarai dipadukan dengan kelor menjadi inovasi produk bernama Komag Coffee yang dikembangkan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Produk ini diperkenalkan dalam kegiatan Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI di Stund UNWIRA Kupang.

Mahasiswa Manajemen Semester V, Julian Mukin, mengatakan Komag Coffee hadir dengan mengangkat bahan baku lokal, khususnya kopi yang diperoleh langsung dari petani di Kabupaten Manggarai.

“Yang unik dari produk kami adalah kopi ini dicampur dengan kelor. Kami mengambil kopi langsung dari petani di Manggarai dan proses sangrainya juga kami lakukan sendiri,” ujar Julian saat diwawancarai wartawan, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Julian, penggunaan kelor menjadi salah satu pembeda Komag Coffee dari produk kopi pada umumnya. Kelor dipilih karena memiliki berbagai manfaat yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.

Selain menggunakan bahan lokal, proses produksi Komag Coffee masih mempertahankan penggunaan alat tradisional dalam proses sangrai. Cara tersebut dinilai mampu menghasilkan aroma kopi yang lebih khas.

Komag Coffee saat ini memiliki sejumlah varian, yakni Komag Original, Komag Light, Komag Less Sugar, Komag Jahe, dan Komag Milk.

Untuk minuman siap konsumsi, harga dibanderol mulai Rp12 ribu hingga Rp15 ribu. Sementara produk bubuk Komag Coffee tersedia dalam kemasan 250 gram seharga Rp50 ribu dan 500 gram seharga Rp85 ribu.

Komag juga menyediakan kopi Manggarai tanpa campuran kelor dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram, serta bubuk kelor yang telah diproses dengan harga Rp35 ribu.

Libatkan Petani dan Dorong Produk Ramah Lingkungan Pengembangan Komag Coffee tidak hanya berfokus pada produk akhir. Mahasiswa juga melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat dan petani di sejumlah wilayah.

Julian mengatakan timnya turun ke desa-desa untuk membangun hubungan langsung dengan pemasok bahan baku sekaligus melihat potensi produk lokal yang dapat dikembangkan.

Mereka juga mulai memperhatikan persoalan sampah kemasan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan perajin di Desa Oebelo untuk memanfaatkan hasil kerajinan berbahan lontar sebagai alternatif pengganti plastik.

“Kami ingin tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga melihat bagaimana prosesnya sampai ke masyarakat dan bagaimana limbah kemasan bisa kami tanggung jawabkan,” katanya.

Baru Berjalan Sekitar Satu Setengah Bulan

Julian mengungkapkan, proses pengembangan Komag Coffee hingga menghasilkan produk siap jual baru berjalan sejak awal Juli 2026.

Meski masih tergolong baru, tim optimistis produk tersebut dapat berkembang dengan dukungan kampus dan berbagai pihak.

Untuk pemasaran, Komag Coffee saat ini memanfaatkan jaringan WhatsApp, Facebook, dan Instagram @komag_unwira.

Pemasaran melalui marketplace masih dalam tahap persiapan karena tim ingin memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi permintaan sebelum memperluas penjualan secara daring.

Target mereka bukan hanya pasar Kupang. Tim Komag Coffee berharap produknya dapat dikenal lebih luas di luar NTT dan, jika produksi serta pemasaran semakin kuat, membuka peluang untuk menjangkau pasar internasional.

“Kami ingin membawa produk lokal NTT ini lebih jauh. Kalau ke depan berhasil, kami berharap bisa sampai ke Timor-Leste dan pasar lainnya,” ujar Julian.

Ke depan, tim juga berencana mengembangkan kedai sendiri setelah program pendampingan usaha selesai. Konsep kedai akan dibuat lebih modern dan menarik bagi anak muda tanpa meninggalkan identitas produk lokal.

Julian menilai keberadaan dukungan pemerintah dan kampus sangat penting untuk membantu mahasiswa mengembangkan usaha berbasis potensi daerah.

Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan pendanaan, tetapi juga hadir dalam membuka akses pasar dan mempertemukan pelaku usaha lokal dengan konsumen yang lebih luas.

“Potensi masyarakat lokal sebenarnya sangat kuat. Mereka punya banyak hasil yang bisa dikembangkan. Harapannya, pemerintah bisa membantu memberdayakan dan membuka pasar agar produk lokal tidak hanya dijual murah, tetapi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi,” katanya.

Dengan menggabungkan kopi Manggarai, kelor, proses produksi sendiri, serta pemberdayaan masyarakat, Komag Coffee kini menjadi salah satu upaya mahasiswa UNWIRA untuk mengubah potensi bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi muda.