Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar talkshow Bicara Buku Buku Bicara (B4) dengan mengangkat topik “Bicaralah Pada Hening”, buku karya Nong E. Yonson, pada Minggu, (28/7/2026), di Studio Radio TIRILOLOK.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dince Rambu Wasak, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Kupang.
Dalam dialog interaktif, Dince mengaku langsung tertarik sejak pertama kali membaca judul buku tersebut. Menurutnya, judul Bicaralah Pada Hening memberikan kesan mendalam karena seolah mengajak pembaca memasuki ruang perenungan dan berdialog dengan diri sendiri.
“Ketika pertama kali membaca judulnya, saya langsung tertarik. Judul ini seakan mengajak pembaca berdialog dengan ruang rasa, angan, dan keheningan yang sesungguhnya menyimpan banyak suara di dalam hati maupun pikiran,” ujarnya.
Ia menilai judul buku tersebut memberi gambaran bahwa isi buku merupakan kumpulan puisi yang bersifat kontemplatif, mengajak pembaca melakukan perenungan mendalam mengenai ketenangan, kehidupan, dan pencarian makna.
Saat ditanya mengenai pesan utama yang ingin disampaikan penulis melalui judul Bicaralah Pada Hening, Dince berpendapat bahwa keheningan bukanlah simbol kekosongan.
“Menurut saya, pesan terbesar yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa keheningan bukanlah suatu kekosongan. Keheningan justru menjadi ruang bagi manusia untuk berdialog dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan,” katanya.
Lebih lanjut, Dince menjelaskan bahwa secara umum aktivitas berbicara identik dengan adanya lawan bicara yang hadir secara fisik. Namun, dalam buku ini, penulis menghadirkan makna yang lebih simbolis.
“Memang benar berbicara biasanya membutuhkan lawan bicara yang nyata. Akan tetapi, ketika penulis memasangkan kata ‘berbicara’ dengan ‘hening’, maknanya bergeser menjadi sebuah proses batin. Berbicara tidak lagi dipahami sebagai percakapan biasa, melainkan sebagai proses mendengar, merenung, dan memahami diri sendiri, memahami Tuhan, bahkan memahami berbagai realitas kehidupan,” jelasnya.
Menurut Dince, perpaduan antara kata berbicara dan hening bukanlah sebuah pertentangan, melainkan kombinasi yang menghadirkan makna filosofis.
“Penulis ingin menunjukkan bahwa percakapan yang paling bermakna justru sering terjadi tanpa suara. Ketika manusia mampu memahami dirinya sendiri, di situlah dialog yang sesungguhnya berlangsung,” pungkasnya.














