Expo Panggilan Hidup Bakti se – Kota Kupang Jadi Ruang Refleksi di Era Digital

Fr. Saverius Davinto Lisu menjelaskan bahwa Expo Panggilan tahun ini digelar sebagai momentum refleksi atas perkembangan teknologi di era digital yang semakin membawa perubahan dalam aneka aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan religius.

Keterlibatan Serikat Sabda Allah (SVD) dalam Expo Panggilan Hidup Bakti se - Kota Kupang di Paroki St. Fransiskus Asisi BTN Kolhua

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pelaksanaan Expo Panggilan Hidup Bakti se-Kota Kupang oleh Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Asisi BTN Kolhua pada 29/04-03/05, mengangkat tema “Mendengar Suara Tuhan di Tengah Arus Media Digital”.

Dalam penyelenggaraannya, sebanyak 18 komunitas hidup bakti melibatkan diri, sebagai upaya untuk memperkenalkan cara hidup membiara kepada umat secara lebih luas, terutama bagi orang muda dan anak-anak.

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Fr. Saverius Davinto Lisu menjelaskan bahwa Expo Panggilan tahun ini digelar sebagai momentum refleksi atas perkembangan teknologi di era digital yang semakin membawa perubahan dalam aneka aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan religius.

Ia menilai, dewasa ini media digital kerap disalahgunakan sebagai sarana untuk mengejar popularitas diri semata. Padahal mengutip Paus Fransiskus, ia menegaskan bahwa media digital mesti menjadi alat untuk mewartakan tentang Kristus. Untuk itulah, ia menyoroti pentingnya memberikan ruang untuk mendengarkan suara Tuhan di tengah kebisingan arus lalu lintas informasi saat ini.

Expo Panggilan disebutnya menjadi kesempatan untuk menepi sejenak dan menyelami hidup bakti sebagai panggilan dari Tuhan itu sendiri. Karenanya, ia berharap bahwa benih-benih panggilan akan kian subur melalui Expo itu, demi pertumbuhan dan perkembangan Gereja Katolik di masa yang akan datang.

Fr. Devid – sapaan akrabnya – menjelaskan bahwa Expo Panggilan kali ini merupakan tahun ketiga pelaksanaannya, yang juga melibatkan lebih banyak biara dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun pertama pagelarannya, Expo Panggilan itu hanya mengundang sejumlah biara di wilayah paroki tersebut. Sementara pada tahun kedua, sudah semakin meningkat jumlah biara yang berpartisipasi, mengingat bahwa skala penyelenggaraannya mencakup wilayah Kota Kupang.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tahun ini, secara kuantitas, jumlah biara yang ikut serta semakin bertambah, di antaranya dengan keterlibatan  SVD, Misionaris Nazareth, dan Scolapios. Kendati demikian, sejumlah biara yang sebelumnya ikut terlibat, tahun ini tidak dapat berkontribusi karena berbagai kegiatan internal.

Ke depan, Fr. Devid mengharapkan bahwa pelaksanaan Expo Panggilan akan mendapatkan perhatian yang lebih serius dari Gereja, khususnya dengan atensi dari Keuskupan Agung Kupang yang ditargetkan dapat menarik biara-biara lain untuk turut serta.

Tidak hanya itu, ia juga menghendaki agar kolaborasi dengan berbagai pihak akan terus berlanjut, terutama dengan kelompok kategorial seperti SEKAMI, OMK, dan WKRI; Lembaga Pendidikan Katolik, baik sekolah dan yayasan; serta komunitas terkait lainnya.

Adapun Expo Panggilan tahun ini berlangsung selama 4 hari dengan menyajikan stand pameran komunitas hidup bakti, perkenalan kongregasi, dan acara hiburan lainnya.