Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar program Viral NTT bertajuk “Geotermal: Berkat atau Petaka?” dengan menghadirkan Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga, sebagai narasumber. Acara tersebut berlangsung pada Sabtu, (1/11/2025), di Studio Radio TIRILOLOK.
Dalam dialog interaktif itu, Yuvensius Stefanus Nonga mengungkapkan keprihatinannya atas rencana pengembangan 17 titik proyek panas bumi (Geotermal) di Pulau Flores.
“Ada 17 titik yang akan dibor, mulai dari Mataloko, Poco Leok, Ende, Nagekeo, Soa, hingga Flores bagian timur sampai Lembata,” ujarnya.
Menurut Yuvensius Stefanus Nonga, pemerintah tampak begitu bersemangat mengembangkan proyek geotermal di Flores, namun hal itu menimbulkan tanda tanya besar bagi masyarakat.
“Kami jadi bertanya, sebenarnya geothermal ini untuk siapa? Untuk masyarakat Flores, orang NTT, atau untuk kepentingan lain?” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sejak penetapan Flores Geotermal Island pada 2019, terbentuk forum bisnis percepatan yang membahas soal suplai dan permintaan energi. Namun, hasil analisis saat itu menunjukkan bahwa kebutuhan listrik masyarakat Flores tidak sebanding dengan kapasitas besar proyek geotermal yang direncanakan.
“Kalau dilihat dari data PLN, beban listrik tertinggi di Flores hanya sekitar 96 megawatt, sementara kapasitas terpasang sudah 104 megawatt. Artinya masih ada cadangan, tapi proyek geothermal ini bisa menghasilkan lebih dari 1000 megawatt,” jelasnya.
“Ada kelebihan hingga 900 megawatt. Jadi wajar kalau muncul dugaan bahwa energi ini disiapkan untuk sektor lain seperti pariwisata skala besar, perkebunan, atau bahkan pertambangan,” tambah Yuvensius Stefanus Nonga.
Ia juga menyatakan lemahnya partisipasi publik dalam penetapan proyek tersebut.
“Sosialisasi dilakukan setelah titik ditetapkan. Ini bukan meaningful participation. Masyarakat seharusnya dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi,” tegasnya.
Selain itu, Yuvensius Stefanus Nonga menilai bahwa proyek panas bumi di Flores berpotensi mengancam lahan pertanian dan meningkatkan kerentanan masyarakat adat.
“Banyak masyarakat bergantung pada lahan pertanian. Ketika wilayah mereka dibor, muncul lubang-lubang panas baru bahkan sampai di kebun dan dapur warga. Ini jelas berdampak pada keselamatan dan ruang hidup mereka,” ujarnya.
Temuan WALHI NTT di Mataloko menunjukkan bahwa pemboran sejak tahun 2000 memicu terbentuknya manifestasi permukaan baru seperti lubang panas dan semburan lumpur di area permukiman.
“Ironisnya, pemerintah justru melihat itu sebagai potensi wisata. Tapi berapa banyak dapur dan kebun masyarakat yang mau dijadikan tempat wisata?” kritiknya.
Menutup dialog, Yuvensius Stefanus Nonga mengingatkan agar pemerintah meninjau kembali proyek Geotermal di Flores dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan, potensi krisis iklim, dan keselamatan masyarakat.
“Flores ini pulau kecil di pertemuan tiga lempeng bumi, sangat rentan. Jangan sampai demi energi bersih, kita justru menciptakan bencana baru,” tandasnya.













