Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri kuliah umum bertajuk “Peningkatan Akses Keuangan Bagi Pelaku Usaha Berbasis Komunitas Kampus sebagai Implementasi One School One Product (OSOP)” yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (UNDANA) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT, di Aula Lantai III Gedung Rektorat UNDANA, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 174 mahasiswa dan dibuka oleh Rektor UNDANA, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng. Turut hadir sebagai narasumber Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT Selfi Handrayani Nange, Area Head BRI Kupang Mochamad Reza Bondan Wibowo, Pimpinan Bank NTT Kantor Cabang Utama Kupang Louise K. Gonsalves Atie, dengan moderator Federika Rambu Ngana.
Dalam sambutannya, Rektor UNDANA Prof. Jefri S. Bale menegaskan bahwa program peningkatan akses keuangan berbasis komunitas kampus merupakan langkah strategis untuk membangun budaya ekonomi produktif melalui gerakan One School One Product (OSOP).
Menurutnya, kampus tidak lagi hanya mencetak lulusan sebagai pencari kerja, tetapi juga harus melahirkan wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja melalui penguatan literasi keuangan, akses pembiayaan, dan pendampingan usaha.
“KUR Masuk Kampus diharapkan membentuk mentalitas mahasiswa menjadi job creator sekaligus membantu masyarakat dan pelaku UMKM memperoleh akses pembiayaan formal sehingga terhindar dari praktik rentenir maupun pinjaman online ilegal,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menekankan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Menurutnya, kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh jumlah pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah dari potensi lokal.
“Kampus harus melahirkan lulusan yang memiliki mindset bisnis, mampu melihat persoalan sebagai peluang usaha, serta mengembangkan potensi daerah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” kata Melki.
Ia menjelaskan, perekonomian NTT masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Namun sebagian besar komoditas masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah dinikmati di luar daerah.
Melki menyebut sejumlah komoditas unggulan seperti sapi, rumput laut, kopi, jagung, dan tenun memiliki potensi besar apabila diolah dan dikemas menjadi produk bernilai tinggi.
“Kita jangan lagi hanya Tanam-Panen-Jual. Yang harus dilakukan sekarang adalah Tanam-Panen-Olah-Kemas-Jual agar nilai tambah tetap berada di NTT,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTT tahun lalu mencapai sekitar 5 persen atau berada di atas rata-rata nasional. Namun, tingginya aktivitas ekonomi tersebut belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal karena masih besarnya ketergantungan terhadap produk dari luar daerah.
Dalam kesempatan itu, Melki memperkenalkan program KUR Masuk Kampus sebagai bagian dari implementasi OSOP. Program tersebut dirancang untuk mendampingi mahasiswa mulai dari pengembangan ide bisnis, inkubasi usaha, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), proses produksi hingga pemasaran.
Menurutnya, terdapat empat tantangan utama pengembangan UMKM di NTT, yakni akses pembiayaan, literasi keuangan, manajemen usaha, dan pemasaran. Kehadiran perguruan tinggi bersama pemerintah dan perbankan diharapkan mampu menjawab seluruh tantangan tersebut melalui pendampingan yang berkelanjutan.
Melki juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengembangkan platform NTT Mart sebagai pasar bagi produk-produk lokal. Bahkan, pemerintah menyiapkan skema belanja produk UMKM oleh aparatur sipil negara (ASN) agar tercipta pasar yang berkelanjutan bagi hasil produksi masyarakat.
“Kami ingin membangun ekosistem yang utuh. Pemerintah menyiapkan regulasi, perbankan menyediakan pembiayaan, kampus melakukan pendampingan, sementara mahasiswa dan masyarakat menjadi pelaku usaha yang mampu menggerakkan ekonomi daerah,” pungkasnya.














