Menjaga Nada, Merawat Tradisi Musik di Ledalero

Ledalero, Musik dan Teater.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL –Radio TIRILOLOK menggelar program Viral NTT bertajuk “Ledalero, Musik dan Teater” dengan menghadirkan narasumber P. Rolan Lambertus Lima Letu, SVD dan P. Yosef Kusi, SVD, sebagai Dosen Musik Liturgi IFTK Ledalero. Acara talkshow di Studio Radio TIRILOLOK pada Sabtu, (20/6/2026).

Dalam dialog interaktif, Dosen Musik Liturgi IFTK Ledalero, P. Rolan Lambertus Lima Letu, SVD menjelaskan bahwa musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan komunitas Ledalero dan mendapat perhatian serius dalam proses formasi.

Menurut Pater Rolan, sejarah menunjukkan peran besar musik dalam pembentukan karakter, jati diri, serta penanaman nilai-nilai kehidupan bagi para frater.

Perkembangan musik di Ledalero pernah mencapai masa yang sangat membanggakan. Sejumlah kegiatan seni, termasuk konser musik dan pertunjukan orkestra, pernah diselenggarakan pada masa lalu.

Namun, berbagai capaian tersebut mengalami kemunduran setelah gempa bumi tahun 1992 yang menyebabkan kerusakan fasilitas dan perlengkapan musik. Dampak bencana tersebut mengakibatkan banyak sarana pendukung kesenian hilang dan tidak lagi digunakan.

Untuk diketahui, upaya menghidupkan kembali tradisi musik terus dilakukan melalui penyediaan fasilitas dan pengembangan berbagai kegiatan seni.

Musik dipandang sebagai warisan berharga Gereja yang perlu dipelihara dan dikembangkan dalam lingkungan seminari.

Perhatian terhadap pendidikan musik juga diarahkan kepada para frater sebagai calon imam. Pengetahuan dan keterampilan bermusik dinilai penting untuk mendukung pelayanan liturgi serta memperkaya proses pembinaan di Seminari Tinggi Ledalero.

Nilai-nilai yang terkandung dalam musik diyakini memberikan manfaat besar bagi perkembangan karakter dan kehidupan para formandi.

Sementara itu, Dosen Musik Liturgi IFTK Ledalero, P. Yosef Kusi, SVD menjelaskan pentingnya memahami perbedaan antara lagu rohani dan lagu liturgi. Sebagai contoh, lagu “Alleluia” karya Handel pada awalnya tidak diciptakan untuk perayaan liturgi, melainkan sebagai bagian penutup sebuah pertunjukan.

Menurut Pater Yosef, tujuan penciptaan sebuah lagu menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan kelayakan penggunaan lagu dalam perayaan liturgi. Selain tujuan penciptaan, isi dan pesan yang terkandung dalam lirik juga perlu diperhatikan secara cermat.

Lagu rohani memiliki fungsi yang luas dan dapat digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun pertunjukan seni.

Namun, tidak semua lagu rohani memenuhi syarat untuk digunakan dalam perayaan liturgi. Sebaliknya, seluruh lagu liturgi termasuk dalam kategori lagu rohani karena secara khusus diciptakan untuk mendukung pelaksanaan ibadah.

P. Yosef menegaskan bahwa pemilihan lagu untuk liturgi memerlukan ketelitian dan pertimbangan yang matang.

Proses penciptaan lagu liturgi juga tidak sederhana karena harus memperhatikan aspek teologis, liturgis, dan pastoral agar sesuai dengan tujuan perayaan Gereja.