Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan kegiatan percepatan penurunan stunting pada Rabu, (21/5/2025), bertempat di Hotel Harper Kupang.
Kegiatan menjadi bagian dari upaya penguatan koordinasi lintas sektor dalam menangani persoalan gizi kronis yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah.
Program Melki-Johni yang diusung dengan tagline “Ayo Bangun NTT” memiliki visi mendorong NTT menjadi provinsi yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.
Program Melki – Johni memuat misi strategis seperti pembangunan infrastruktur berbasis potensi daerah, perluasan layanan kesehatan dan jaminan sosial yang inklusif, penyediaan pendidikan berkualitas dan merata, peningkatan kesejahteraan sosial yang berkeadilan, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan untuk menciptakan masa depan inklusif.
Dalam pemaparan materi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes, menyatakan pentingnya keseriusan dalam mengatasi stunting. Menurut Kadis Kesehatan NTT, bila persoalan diabaikan, akan berdampak luas terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
Salah satu peserta kegiatan, yang juga Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa, S.KM., M.Kes, menjelaskan, stunting umumnya berakar dari masalah gizi yang tidak tertangani sejak awal.
Kekurangan asupan nutrisi pada masa pertumbuhan dapat menghambat perkembangan fisik anak, terutama tinggi badan.
Berdasarkan data ePPGBM hasil intervensi stunting per Juni 2024, tercatat 11 kabupaten berpotensi mengalami kenaikan angka stunting.
Wilayah tersebut antara lain TTS, TTU, Sabu Raijua, Alor, Kabupaten Kupang, Belu, Malaka, Flores Timur, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, dan Sikka.
Peningkatan kasus terjadi karena tren penurunan berat badan anak usia 2 hingga 59 bulan, diperparah oleh tingginya angka anemia pada remaja putri dan ibu hamil, serta prevalensi bayi dengan berat lahir rendah yang belum tertangani secara optimal.














