Paus Fransiskus, yang akan berusia 88 tahun pada tanggal 17 Desember, 2024 menunjukkan kekuatan dan ketangguhan yang luar biasa dalam pelayanannya sebagai pemimpin Gereja Katolik. Banyak orang mengatakan usianya sudah lanjut. Ia lebih sering bergantung pada kursi roda untuk mobilitas. Walaupun demikian, paus tidak menunjukkan tanda-tanda melambat dalam tugasnya. Perjalanan selama dua belas hari ke Asia Tenggara dan Oseania pada tanggal 3 September 2024 adalah bukti nyata dari dedikasinya yang tak kenal lelah.
Dari perspektif teologis, perjalanan ini mencerminkan panggilan Kristiani untuk melayani tanpa henti, sebagaimana Yesus Kristus sendiri menunjukkan dalam pelayanan-Nya di dunia. Yesus mengatakan, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45), dan Paus Fransiskus menjadikan prinsip ini sebagai dasar dari kepemimpinannya. Dari fisiknya tampaknya semakin lemah, namun semangat pelayanan Paus tetap menyala. Ia menunjukkan bahwa pelayanan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh semangat, kasih dan pemberian diri yang tak terbatas.
Dari sudut pandang filosofis, perjalanan ini juga mengingatkan kita pada konsep “amore fati,” yang berarti “mencintai nasib.” Paus Fransiskus menerima keterbatasan fisiknya sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, tetapi ia tidak membiarkan hal tersebut menghentikannya dari misi yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan demikian, ia mengajarkan kepada kita semua bahwa hidup yang benar adalah bagaimana menerima setiap aspek dari eksistensi kita, baik suka maupun duka, dan tetap melangkah maju dalam semangat iman, kasih dan pelayanan yang tidak mengenal batas akhir ( service knows no end).
Kondisi fisik Paus, termasuk kenyataan bahwa ia hanya memiliki satu paru-paru, hal ini membuat saya kagum sekaligus sedikit heran. Saya heran karena ia tidak menggunakan kondisinya sebagai alasan untuk mengurangi aktivitas dan tanggung jawabnya. Paus Fransiskus justru menggunakannya sebagai sarana untuk semakin bergantung seluruh hidupnya pada penyelenggaran ilahi. Hal ini mengingatkan saya pada seruan santo Paulus dalam II Korintus 12:9, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Dengan kata lain, Paus menunjukkan bahwa dalam kelemahan manusiawi, kuasa Allah dapat lebih nyata bekerja.
Dalan analisa saya bahwa perjalanan ini juga menyampaikan pesan utama tentang inklusivitas dan universalitas Gereja Katolik. Dengan mengunjungi negara-negara seperti Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura, Paus Fransiskus menunjukkan komitmennya yang teguh dan tegas untuk berdialog dengan semua budaya dan agama. Di usia yang Sudah hampir 88 tahun ini upaya untuk mempromosikan persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama tak pernah pudar. Tema ini sangat “dear to his heart” ( sangat istimewa di hatinya). Dalam dunia yang semakin terpecah, perjalanan ini mengingatkan kita bahwa Gereja harus menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan dinding yang memisahkan.
Paus Fransiskus juga mengajarkan kita tentang arti dari “pelayanan hingga titik terakhir.” Meskipun usia dan kondisi fisiknya mungkin memberi alasan bagi kebanyakan orang untuk mundur, nanum Paus Fransiskus terus melangkah maju. Ia menolak untuk menyerah pada tantangan yang dihadapinya. Ini adalah contoh nyata dari kepemimpinan yang selalu dekat dengan mereka yang dilayani. Ia pernah berkata, “Shepherd smells like a sheep” (Gembala berbau seperti domba). Ia tidak hanya memerintah dari atas dan dari jauh, tetapi benar-benar turun dan dekat dengan umat yang dilayanininya.
Akhinrya saya melihat perjalanan Paus Fransiskus ke Asia Tenggara adalah lebih dari sekadar kunjungan pastoral tetapi penekanannya lebih pada persekutuan (koinonia) iman, keberanian, dan dedikasi yang tak tergoyahkan. Pau Fransiskus melayani Tuhan dan sesama tidak mengenal batas usia dan kondisi fisik, tetapi merupakan pengungkapan semangat iman, kasih dan pemberian diri tanpa batas usia dan fisik.














