Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pada Jumat, (12/12/2025), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Provinsi NTT menggelar Diskusi Pendidikan Politik bersama unsur LSM dan media dengan tema Energi Baru Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari konsolidasi internal untuk menghimpun masukan strategis menuju agenda politik 2029.
Dalam sambutan pembuka, Ketua DPW Perindo NTT, Simson A. Lawa yang diwakili oleh Sekretaris DPW Perindo NTT, Arieston Dapa, mengatakan bahwa diskusi ini adalah rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah digelar bersama kelompok disabilitas dan mahasiswa. “Kami berharap ada sumbang saran dari teman-teman media dan LSM. Mereka adalah pihak yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat dan memahami dinamika politik di daerah,” ujarnya Arieston Dapa di Kantor Sekretariat DPW Partai Perindo NTT.
Arieston Dapa menambahkan bahwa Perindo masih menghadapi tantangan besar dalam perolehan suara nasional. “Dua kali Pemilu kami belum lolos ke Senayan. Pada 2019 suara nasional kami sekitar 2,67 persen dan di 2024 turun menjadi sekitar 1,6 persen. Ini menjadi catatan penting bagi kami untuk berbenah,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa secara infrastruktur, Perindo NTT berada dalam kondisi solid. “Kantor yang kita tempati ini adalah milik sendiri, bukan sewa. Kita juga memiliki ambulans partai dan kepengurusan lengkap di 22 kabupaten dan kota dengan 45 kursi DPRD. Secara nasional Perindo memiliki 31 kursi provinsi dan 329 kursi kabupaten/kota,” jelasnya.
Arieston Dapa menutup sambutan dengan menyampaikan pesan pimpinan yang sedang bertugas di luar daerah. “Beliau titip salam untuk seluruh peserta. Kami berharap diskusi ini memberi masukan nyata bagi pembenahan Perindo ke depan,” katanya.
Materi selanjutnya dipaparkan oleh Wakil Ketua 2 DPW Perindo NTT, Yosafat Koli, yang menyatakan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja partai di Pemilu 2019 dan 2024.“Dua pemilu terakhir, Perindo belum mencapai ambang batas parlemen empat persen. Putusan Mahkamah Konstitusi menyatakan aturan ini masih berlaku di 2024, tetapi akan direvisi sebelum 2029. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri lebih serius,” ujarnya.
Yosafat Koli memaparkan data perolehan suara Perindo di Dapil NTT serta sejumlah kelemahan yang harus dibenahi. “Basis suara kita belum merata. Di beberapa dapil ada yang hanya memperoleh ratusan suara, sementara yang lain mencapai puluhan ribu. Konsolidasi digital kita juga lemah dan struktur saksi di TPS perlu diperkuat,” katanya.
Ia menawarkan sejumlah strategi kunci untuk peningkatan suara. “Kita perlu memperkuat struktur sampai tingkat TPS, menyiapkan saksi profesional, dan mengoptimalkan program berbasis layanan seperti UMKM, kesehatan, dan pelatihan digital. Konten kreatif dan influencer lokal juga harus dimanfaatkan untuk menarik pemilih muda,” tegasnya.
Yosafat Koli menargetkan Perindo bisa mencapai 4–9 persen suara nasional pada 2029.
Sementara itu, Anggota DPRD NTT Fraksi Partai Perindo, Paulus Lobo, menjelaskan bahwa media memiliki peran besar dalam pembangunan demokrasi. “Media adalah jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Karena itu, pendidikan politik tidak bisa dilepaskan dari peran media,” ujarnya.
Ia juga mendorong aktivis LSM dan jurnalis untuk tidak ragu terjun ke dunia politik. “Mungkin suatu saat teman-teman NGO dan media yang hadir hari ini akan ikut terjun ke politik praktis. Demokrasi membutuhkan orang-orang yang memahami persoalan publik,” katanya.
Polce menutup pernyataannya dengan harapan agar diskusi ini menghasilkan pemikiran yang konstruktif. “Semoga masukan hari ini bisa menjadi bahan penting bagi Perindo untuk memperkuat strategi dan kapasitas politik menuju 2029,” tutupnya.














