Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Perkembangan sastra di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan pertumbuhan yang pesat, namun diiringi sejumlah tantangan serius. Hal tersebut mengemuka dalam program Viral NTT yang digelar Radio TIRILOLOK dengan topik “Quo Vadis Sastra NTT” pada Sabtu, (11/4/2026) di Studio Radio TIRILOLOK.
Pengamat dan Kritikus Sastra NTT, Yohanes Sehandi, mengatakan bahwa sastra NTT merupakan bagian dari sastra Indonesia yang tumbuh dan berkembang di wilayah NTT dengan kekayaan warna lokal serta kearifan setempat sebagai ciri khasnya, ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sastra NTT pada umumnya menggunakan bahasa Indonesia sebagaimana perkembangan sastra di berbagai daerah lain di Indonesia.
Namun demikian, terdapat perbedaan pada sastra daerah NTT yang menggunakan bahasa lokal sebagai medium utama dan banyak hadir dalam bentuk sastra lisan yang hidup dalam tradisi, seperti tuturan adat dan ekspresi budaya, ujarnya.
Sementara itu, Pegiat Sastra NTT, Robertus Fahik, menilai bahwa sastra kerap terlupakan meskipun memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, ujarnya.
Ia juga mengutip pemikiran Darmanto Jatman yang menggambarkan sastra seperti lidah dan jantung, yang dekat dengan kehidupan namun sering luput dari kesadaran.
Robertus Fahik menambahkan bahwa sastra memiliki fungsi mendasar sebagai sarana untuk menemukan jati diri, ujarnya. Ia menilai perkembangan sastra NTT saat ini sangat pesat dengan munculnya banyak penulis baru serta bertambahnya komunitas berbasis kegiatan sastra.
Selain itu, ia menyebutkan bahwa sejumlah penulis asal NTT telah menorehkan prestasi di tingkat nasional hingga internasional, termasuk keterlibatan dalam program internasional di Amerika Serikat, ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan teknologi turut menjadi tantangan dalam proses berkarya. Kemudahan publikasi membuat karya dapat tersebar lebih cepat, namun dinilai berpotensi mengurangi kedalaman proses kreatif, ujarnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi komunitas sastra yang tetap menjaga kualitas karya melalui proses seleksi yang ketat, sehingga standar sastra tetap terjaga, ujarnya.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya peran pendidikan dalam memperkenalkan sastra kepada generasi muda melalui lingkungan sekolah sebagai ruang strategis untuk menumbuhkan apresiasi sastra sejak dini, ujarnya.














