Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pastor pertama dan satu-satunya dari pelosok daerah nan jauh, negeri seribu lontar, Sabu Raijua, merayakan pesta perak imamat 25 tahun, tepat pada 10 Oktober 2026.
Hal ini menjadi momen membahagiakan sekaligus bersejarah bagi perjalanan imamat RD. Adrianus Dimu, atau yang akrab disapa umat, Romo Ama Kolo. Pastor kelahiran Sabu ini terinspirasi dari seorang misionaris SVD asal Austria, Pater Franz Lackner, SVD yang banyak melakukan aksi kemanusiaan di Sabu Raijua & Rote Ndao.
Ama Kolo yang saat itu masih kecil melihat langsung ketulusan hati Pater Lackner membantu orang Sabu & Rote tanpa memandang status sosial, agama, ras, dan lainnya. Bahkan Pater dari Austria itu rela mengangkat semen, batako, dan pasir untuk membangun sekolah di Sabu. Hal itu membuat Ama Kolo kecil tergerak hati dan mulai menyimpan cita-cita bahwa kelak ia akan menjadi seperti Pater Lackner.
Dengan kepolosannya, Ama Kolo kecil pun mengungkapkan cita-cita itu kepada kakaknya, bahwa ia ingin menjadi Pastor seperti Pater Lackner sehingga bisa membantu banyak orang. Karena Ama Kolo yang saat itu beragama Protestan, kakaknya langsung menampik kalau Pater itu seorang Katolik, sehingga hal tersebut tidak akan mungkin terjadi.
Tetapi Allah tetap merawat benih panggilan itu dalam hati Ama Kolo kecil, sehingga setelah lulus SMP, Ama Kolo dengan berani menyatakan niatnya pada keluarga bahwa ia ingin menjadi Imam Katolik. Hal ini tentu menuai kontra, sebab keinginan menjadi Pastor bukanlah hal yang lumrah diterima bagi keluarganya yang berlatar belakang Protestan. Tetapi pada akhirnya cita-cita itu mendapat restu dari ibunda tercinta.
Berbekal restu dari ibu, Ama Kolo mulai menapaki langkah awalnya dengan memeluk agama Katolik. Ia secara resmi dikukuhkan menjadi Katolik pada tahun 1983. Kemudian Pater Lackner mengirimnya untuk belajar di SMK Warta Bakti Kefamenanu, pada Jurusan Pendidikan Guru Agama Katolik. Setelah menamatkan pendidikannya, Ama Kolo pun kembali ke Sabu, dan menjadi guru di SDK Mehona.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, Ama Kolo merasakan ketidaknyamanan dalam hatinya. Panggilan menjadi Imam terus menguat. Apalagi tujuan awalnya memeluk Katolik ialah menjadi Imam, bukan berakhir sebagai Guru Agama Katolik.
Tahun 1988, Ama Kolo melamar di Seminari Hokeng untuk menjalani masa persiapan. Ia pun dinyatakan lulus setelah menjalani masa persiapan selama dua tahun. Kemudian ia melamar sebagai calon Imam di Keuskupan Agung Kupang. Lamarannya pun diterima, lalu pada tahun 1991, Ama Kolo menjalani masa Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lo’o Damian – Belu.
Dalam peziarahan iman, terkadang ada perasaan hambar dalam menjalankan rutinitas doa. Hal ini pun dirasakan oleh Ama Kolo saat menjalani TOR, ketika rutinitas ibadah, doa, atau pelayanan terasa hampa dan kehilangan getaran emosional. Ia sempat memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan ke tahap berikutnya. Hal ini menjadi titik krusial bagi Ama Kolo dalam menjalani tahun orientasi rohaninya. Tetapi ia dikuatkan kembali oleh pembinanya, bahwa perjalanan hidupnya telah dirancang oleh Tuhan untuk melayani umat Allah.
Dengan keteguhan hati, Ama Kolo pun melanjutkan ke Seminari Tinggi untuk selanjutnya menjalani masa pendidikan calon imam, seperti studi Filsafat dan Teologi. Setelah menyelesaikan rangkaian pembinaan di Seminari Tinggi, pada tahun 2000, Ama Kolo sempat mengalami hambatan lagi menjelang tahbisannya. Ia yang seharusnya menerima tahbisan Diakon, ditunda oleh Uskup Agung Kupang dengan beberapa pertimbangan, sehingga ia baru ditahbiskan di tahun 2001, dengan motto “Cinta akan Rumah-Mu Menghanguskan Aku” (Yoh, 2:17).
RD Adrianus Dimu atau Romo Ama Kolo telah memasuki usia Imamat yang ke-25 tahun. Dari ocehan polos seorang Ama Kolo kecil yang ingin menjadi Pastor, kini putra terbaik Sabu Raijua itu telah mengabdikan seluruh hidupnya bagi umat Allah selama 25 tahun.
Beberapa tempat RD. Adrianus Dimu berkarya, antara lain: Pembina di Seminari Menengah St. Rafael – Oepoi Kupang (2000-2003), Paroki St. Yoseph Naikoten (2003-2005), Paroki St. Paulus Oinlasi (2005-2008), Paroki St. Maria Dolorosa Soe (2008-2016), Bengkel Keuskupan Agung Kupang (2016-2018), Paroki St. Gregorius Agung Oeleta/Stasi Sta. Theresia Tenau (2018-sekarang).














