Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Yayasan Centrum Inisiatif Masyarakat Mandiri (CIRMA) menyelenggarakan pelatihan bagi para fasilitator yang akan mendamping 6000 petani di 30 Desa. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 21 hingga 23 Mei 2025, bertempat di Hotel Neo Kupang.
Sebanyak 21 peserta mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari enam orang vocal point dan 12 petani utusan dari enam kabupaten/kota. Mereka akan turut memberikan pendampingan bersama para vocal point kepada para petani di 30 desa sasaran.
Pada acara pembukaan kegiatan, hadir Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (PPEPD), Nyoman Saniambara, S.K.M., M.Kes., serta Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Rahmattulloh Adji.
Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Direktur Yayasan CIRMA, John Mangu Ladjar menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para fasilitator dalam mendampingi komunitas petani. Para peserta dilatih berbagai keterampilan praktis, seperti teknik memandu dan memfasilitasi diskusi kelompok, memberikan penyuluhan yang efektif, serta merancang dan mengelola kegiatan dalam kelompok tani. Selain itu, mereka juga mendapatkan pelatihan mengenai pertanian cerdas iklim, termasuk pengolahan lahan berkelanjutan dan pembuatan pupuk organik sebagai alternatif ramah lingkungan. Seluruh keterampilan ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan produktivitas petani di tingkat lokal.
John Mangu Ladjar mengharapkan agar para peserta yang mengikuti pelatihan ini dapat terjun ke lapangan dan membagikan ilmu yang diperoleh kepada 6.000 petani kecil di 30 desa yang telah ditentukan.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang menjelaskan bahwa kehadiran BMKG dalam proyek ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai cara membaca dan memahami informasi iklim yang disampaikan oleh BMKG. Diharapkan, setelah mendapatkan pengetahuan tersebut, para peserta dapat menjadi penyambung informasi iklim kepada para petani, sekaligus melatih mereka agar mampu memahami informasi iklim secara mandiri.
Ia juga menegaskan bahwa informasi cuaca sangat penting untuk diketahui para petani. Menurutnya, perkiraan situasi iklim tidak hanya mengandalkan kebiasaan lama yakni dengan perhitungan berdasarkan waktu, karena kondisi cuaca saat ini tidak menentu. Dengan kemampuan membaca dan memahami informasi iklim dari BMKG, para petani diharapkan dapat mengelola pertanian secara cerdas dan adaptif terhadap iklim.
Sementara itu, Nyoman Saniambara menyampaikan bahwa pemerintah menyambut baik program yang dicanangkan oleh CIRMA. Menurutnya, kemajuan di bidang pertanian dapat mendorong kemajuan bangsa. Ia mencontohkan beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Thailand, dan Australia yang berhasil berkembang melalui sektor pertanian.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah akan mendukung program-program positif yang dijalankan CIRMA, yakni dengan membantu penyediaan alat pertanian, pupuk, serta membantu pemasaran hasil pertanian. Ia berharap program ini terus dilanjutkan dan jika berhasil di wilayah Timor, dapat diperluas ke wilayah lain seperti Sumba.














