Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Walhi NTT menggelar diskusi publik pada Jumat, (21/3/2025), di Kantor Walhi NTT untuk meluncurkan Tuak Lontar (Tanpa) Keadilan Ekologis untuk NTT.
Kegiatan diskusi publik menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Trisno Arkadeus dari Masyarakat Adat Pocoleok, Parid Ridwanuddin dari Green Faith Indonesia, Romo Yohanes Stefanus Lodo dari Kanselarius/Notaris Keuskupan Agung Ende, serta Uli Arta Siagian dari Eknas Walhi. Diskusi tersebut diikuti secara daring melalui aplikasi Zoom dan dipandu oleh Gres Gracelia selaku Divisi Advokasi Walhi NTT.
Kegiatan diskusi publik dibuka oleh Direktur Walhi NTT, Umbu Wulang T. Paranggi, sebagai bentuk komitmen untuk menjaga kelestarian bumi.
Dalam sambutannya, Direktur Walhi NTT mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi, terutama komunitas-komunitas yang terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam, seperti tanah dan air, untuk kepentingan masa depan.
Selanjutnya, Trisno Arkadeus mengungkapkan, meskipun proyek geothermal di Pocoleok masih dalam tahap perencanaan, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat adat setempat. Menurut Trisno Arkadeus, masalah tersebut merupakan isu utama yang perlu segera diselesaikan.
Sementara itu, Romo Yohanes Stefanus Lodo menekankan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan. Romo Yohanes Stefanus memberikan saran eksploitasi sumber daya alam, termasuk energi geothermal di Flores, yang menimbulkan pertanyaan besar.
Apakah pembangunan ini akan membawa masa depan yang lebih baik, atau justru merusak? sehingga menjadi salah satu topik yang didiskusikan lebih lanjut.
Pemanfaatan energi geothermal di Indonesia, terutama untuk pembangkit listrik, telah dimulai sejak tahun 1974.













