Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Yayasan Melati Putih bekerja sama dengan Badan Usaha Mandiri Perikanan dan Industri Center (BUMPI), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), dan Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo Gibran (ARPG), menggelar kegiatan sosialisasi ketahanan pangan berbasis Smart Farming Greenhouse. Acara ini berlangsung di Hotel Harper Kupang pada Selasa, 24 Juni 2025. Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk dukungan terhadap Asta Cita dalam sektor ketahanan pangan dan ekonomi hijau.
Smart Farming Greenhouse merupakan sistem pertanian modern yang menggabungkan teknologi digital dan otomatisasi dalam lingkungan rumah kaca (greenhouse), guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan sektor pertanian.
Ketua Yayasan Melati Putih Kupang, Yuliette Day, dalam wawancaranya bersama Radio Tirilolok, menyampaikan bahwa program Smart Farming Greenhouse merupakan solusi inovatif yang sangat relevan untuk dikembangkan di Kota Kupang. Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan lahan pertanian di wilayah tersebut menjadi alasan utama perlunya penerapan metode pertanian modern ini.
Ia menjelaskan bahwa hanya sekitar 20 persen dari wilayah Kota Kupang yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang baru, efisien, dan adaptif untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan tersebut.
Lebih lanjut, Yuliette memaparkan bahwa Smart Farming Greenhouse memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal meskipun dalam kondisi iklim yang tidak menentu. Teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan sangat cocok diterapkan di daerah dengan keterbatasan sumber daya air.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan program ini. Untuk itu, Yayasan Melati Putih turut melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan pertanian agar mereka memperoleh pengalaman praktik langsung serta dapat membawa pengetahuan dan keterampilan tentang pertanian cerdas ke daerah asal masing-masing.
Di akhir wawancara, Yulieta menyampaikan harapannya agar program Smart Farming Greenhouse tidak berhenti sebagai proyek sementara, tetapi dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan serta produktivitas pertanian di Kota Kupang. Ia juga berharap program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.
Sementara itu, dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal SMSI, Makali Kumar, menyampaikan rasa optimisme bahwa Kota Kupang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam penerapan Smart Farming Greenhouse. Menurutnya, melalui program ini, Kota Kupang dan wilayah lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
Lebih lanjut, Kumar menjelaskan bahwa melalui program Smart Farming Greenhouse, berbagai kendala seperti keterbatasan lahan pertanian dan ketersediaan air dapat diatasi. Selain itu, ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida dapat diminimalisir, sehingga hasil panen yang lebih sehat dapat bertambah.
Ketua Aliansi Relawan Prabowo-Gibran, Syafrudin Budiman, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran berkomitmen untuk mendorong lahirnya Smart Farming sebagai pilar utama dalam transformasi wilayah-wilayah potensial seperti Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, pemanfaatan lahan sempit, pekarangan rumah, hingga kawasan permukiman sebagai lokasi produksi pangan merupakan solusi konkret di tengah tantangan iklim dan ketimpangan distribusi pangan nasional. Ia menyatakan bahwa Kupang dan wilayah sekitarnya memiliki peluang besar untuk menjadi role model dalam sistem pertanian berbasis teknologi seperti Greenhouse.
Syafrudin menyampaikan bahwa langkah-langkah ini merupakan bagian dari agenda besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana kemandirian pangan menjadi elemen penting dari ketahanan nasional. Ia menekankan bahwa semangat gotong royong dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta organisasi seperti Yayasan Melati Putih akan mempercepat terwujudnya visi tersebut. “Kita tidak sedang bermimpi terlalu tinggi. Kita sedang menanam dasar untuk masa depan,” ujar Syafrudin, menutup sambutannya dengan ajakan agar masyarakat NTT menjadi tuan rumah atas inovasi di tanah mereka sendiri.
Sementara itu, dalam pemaparan materinya, Her Suherman menjelaskan bahwa selain untuk mendukung keberhasilan program Asta Cita pemerintah pusat dalam hal kedaulatan pangan, proyek Smart Farming Greenhouse juga ditujukan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan. Program ini juga diharapkan dapat menjadi pemasok utama bahan baku untuk program makan bergizi gratis, sehingga ketersediaan pangan yang sehat dan berkualitas tetap terjaga secara konsisten.
Adapun program Smart Farming Greenhouse ini turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.














