Matahari siang itu seperti marah. Cahayanya menembus dedaunan, membakar jalan setapak menuju Gunung Lakaan. Udara panas menempel di kulit, debu menari di udara, dan suara jangkrik seperti paduan suara yang kehabisan napas.
Di tengah jalur terjal itu, tampak sosok seorang wanita berjalan perlahan.
Kerudung putihnya dengan garis biru di tepiannya berkibar lembut ditiup angin gunung Suster Helena, seorang biarawati dari biara kecil di kaki Lakaan. Tangannya menggenggam rosario, bibirnya berbisik doa.
Bukan untuk keselamatan diri, tapi untuk seseorang yang baru saja ia doakan semalam Andreas, lelaki pendaki yang pernah datang ke biaranya membawa sumbangan, dan secara tak sengaja meninggalkan sepotong cerita di hatinya.
Helena masih ingat pertemuan pertama mereka.
Andreas datang dengan pakaian lapangan, tangan kotor oleh tanah, tapi matanya teduh seperti air sungai setelah hujan.
Terima kasih, Suster,” katanya waktu itu, “Saya cuma ingin membantu, tidak banyak, tapi semoga berguna.”
Helena hanya tersenyum, mencoba menahan detak jantung yang terasa aneh perasaan yang tidak seharusnya tumbuh dalam dada seorang biarawati.
Sejak hari itu, setiap kali Helena berdoa di kapel, ada satu bayangan yang tak mau pergi: Senyum lelaki itu. Dan hari ini, entah kekuatan apa yang mendorongnya, ia mendaki Lakaan sendirian.
Mungkin untuk mencari ketenangan… atau untuk melepaskan sesuatu yang diam-diam ia peluk terlalu lama. Panas siang menembus habis kain jubahnya.
Peluh menetes, langkahnya mulai goyah. “Ya Tuhan…” bisiknya lirih, “ampuni hatiku yang masih bergetar oleh hal dunia.”
Ia berhenti di ketinggian 1600 MDPL, di mana angin mulai berhembus lebih lembut. Dari sana terlihat lembah luas dan desa kecil di bawah, tempat biaranya berdiri.
Helena menatap ke langit. Di tengah panas yang membakar, ia merasa sesuatu yang hangat bukan dari matahari, tapi dari dalam dada.
Ia berlutut, mencium tanah kering, dan berdoa: “Tuhan, bila cinta ini bukan untuk dimiliki, ajarkan aku untuk menikmatinya tanpa dosa.
Bila rasa ini lahir dari kelemahan, jadikan ia kekuatan untuk mencintai-Mu lebih dalam.” Tak jauh dari sana, suara langkah kaki terdengar.
Helena menoleh dan jantungnya nyaris berhenti.
Andreas berdiri beberapa meter di belakangnya, wajahnya juga basah oleh keringat dan debu. “Suster Helena?” suaranya pelan, hampir tak percaya.
“Apa yang Suster lakukan di sini?” Helena terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Mungkin… hal yang sama seperti kamu lakukan: mencari sesuatu yang hilang.”
Andreas mendekat. “Saya mendaki untuk mencari ketenangan. Setelah kehilangan ibu saya minggu lalu, saya… tidak tahu lagi bagaimana berdoa.”
Helena menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Kadang doa tidak perlu kata-kata, Nak. Cukup diam di bawah langit dan biarkan Tuhan membaca isi hatimu.”
Keduanya terdiam lama. Angin berhembus, membawa aroma tanah dan daun kering.
Dalam diam itu, ada sesuatu yang mengalir bukan cinta duniawi, tapi kasih yang murni, tulus, dan tenang. Mereka duduk berdampingan di atas batu besar, tanpa banyak bicara.
Helena menatap salib kecil di dadanya, lalu berkata pelan, “Cinta tidak selalu berarti memiliki, Andreas. Kadang Tuhan menanamnya hanya untuk membuat kita lebih mengerti arti kasih.” Andreas menunduk, suaranya bergetar.
“Mungkin itu yang saya rasakan sekarang, Suster. Panas, lelah, tapi… entah kenapa hati saya damai.” Helena tersenyum lembut. “Itu artinya Tuhan sedang memelukmu.”
Di ketinggian 1600 MDPL itu, dua manusia duduk di bawah matahari yang terik. Tak ada janji, tak ada sentuhan, hanya doa yang terucap dalam diam.
Namun di sanalah cinta menyatu bukan antara pria dan wanita, tapi antara dua jiwa yang sama-sama belajar mencintai dengan cara yang suci.
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, Helena bangkit, melangkah menuruni jalur berbatu sambil berbisik: “Terima kasih, Tuhan. Aku datang dengan gelisah, tapi pulang dengan cinta yang Kau sucikan.”
🌤️ Ending.














