Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Setelah 34 tahun empat bulan mengabdi sebagai aparatur sipil negara, Musa Jaladapakuri (60) resmi memasuki masa purna tugas. Momen tersebut ditandai dengan upacara kedinasan purna karya yang digelar SMP Negeri 7 Kupang, Sabtu (8/8/2026).
Upacara dihadiri seluruh guru dan pegawai SMPN 7 Kupang. Musa yang lahir di Sumba Barat, 25 Juli 1966, merupakan salah satu tenaga pendidik yang telah mengabdi di sekolah tersebut sejak awal berdirinya pada 1992.
Terhitung sejak 1 Agustus 2026, Musa tidak lagi mengenakan seragam Korpri sebagai ASN. Setelah pensiun, ia berencana menjalani aktivitas usaha kecil-kecilan sebagai bagian dari kehidupan barunya.
“Setelah purna tugas, saya ingin tetap melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya akan mencoba usaha kecil-kecilan. Bagi saya, pensiun bukan berarti berhenti berkarya,” kata Musa.
Ia mengatakan, masa pengabdian selama lebih dari tiga dekade memberikan banyak pengalaman dan kenangan yang tidak mudah dilupakan.
“Selama 34 tahun empat bulan saya mengabdi, tentu banyak suka dan duka yang saya alami. Saya bersyukur Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk menjalankan tugas sampai selesai,” ujarnya.
Musa juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru dan pegawai SMPN 7 Kupang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada semua teman-teman guru dan pegawai. Kalau selama kebersamaan ada tutur kata atau tindakan saya yang kurang berkenan, saya mohon maaf,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Musa berpesan kepada warga sekolah agar setiap kesempatan yang diberikan Tuhan dimanfaatkan dengan baik dan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain.
Ia mengingatkan pentingnya menjalani kehidupan dengan penuh syukur dan menjadikan setiap kesempatan sebagai motivasi untuk terus berkarya.
“Kesempatan yang Tuhan berikan jangan disia-siakan. Selama masih diberikan kesehatan dan waktu, kita harus melakukan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain,” kata Musa.
Ia juga memegang prinsip untuk memanfaatkan setiap kesempatan dalam kehidupan, yakni masa hidup sebelum kematian, masa muda sebelum masa tua, masa mudah sebelum masa sulit, masa senggang sebelum masa sibuk, serta masa memiliki sebelum datang masa tidak memiliki.
“Prinsip itu yang selalu saya pegang. Kita harus menggunakan kesempatan yang ada sebelum kesempatan itu berlalu,” ujarnya.
Kepala SMPN 7 Kupang, Yani Alfred Asriona Boymau, S.Pd., mengatakan, upacara purna karya bagi Musa memiliki makna khusus karena Musa merupakan salah satu guru yang telah menjadi bagian dari perjalanan sekolah sejak awal berdiri.
Yani mengatakan, dirinya berasal dari keluarga guru. Ayahnya juga merupakan seorang kepala sekolah. Latar belakang tersebut membuatnya memandang profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan yang mulia.
“Karena itu, saya merindukan kesempatan untuk memberikan penghargaan moril kepada guru, salah satunya melalui kegiatan seperti ini ketika memasuki masa purna karya,” katanya.
Menurut Yani, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas pengabdian Musa sejak meniti karier hingga menyelesaikan masa tugasnya.
“Atas nama negara, saya menyampaikan terima kasih atas kinerja dan dedikasi selama menjalankan tugas sebagai guru,” ujar Yani.
Ia menambahkan, purna karya bukan berarti berakhirnya hubungan kekeluargaan. Seluruh warga sekolah diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan, kesan, maupun permohonan maaf selama bersama-sama mengabdi di SMPN 7 Kupang.
Hal itu, kata Yani, penting untuk menjaga tali silaturahmi dan nilai-nilai kekeluargaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
“Semua warga sekolah memiliki kesempatan untuk menyampaikan isi hati, termasuk perwakilan guru dan siswa. Kita tetap menjaga hubungan kekeluargaan sampai kapan pun,” katanya.
Bagi Musa, perjalanan 34 tahun lebih sebagai guru merupakan bagian penting dalam hidupnya. Ia berharap masa purna tugas dapat menjadi awal untuk memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang berguna.
Purna karya itu pun tidak hanya menjadi seremoni pelepasan seorang guru. Bagi warga SMPN 7 Kupang, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menghargai pengabdian, mengenang perjalanan bersama, sekaligus melepas seorang guru yang telah ikut membangun sekolah sejak awal berdirinya.














