Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, Ignasius R. Lega, mewakili Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, secara resmi membuka Lokakarya Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, (1/9/2025), di Hotel Harper Kupang, mengangkat tema Penataan Kawasan Permukiman Kumuh Pesisir Kota Kupang.
Dalam sambutannya, Ignasius menyampaikan pentingnya hasil kajian sebagai dasar penyusunan kebijakan penataan kawasan kumuh di wilayah pesisir.
“Pada bulan Oktober nanti, seminar hasil kajian akan digelar, dan kami berharap dapat memberikan perspektif baru dalam merancang penataan yang lebih manusiawi dan menyeluruh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir, mulai dari persoalan sanitasi, air bersih, status tanah, hingga dampak sosial ekonomi yang masih membebani warga.
“Berbagai masalah di kawasan pesisir sudah teridentifikasi, termasuk status lahan yang belum jelas, sanitasi yang belum memadai, dan tekanan sosial ekonomi yang terus dirasakan masyarakat. Kajian ini memberi gambaran sekaligus arah untuk solusi yang konkret,” ujarnya lagi.
Ignasius menegaskan bahwa lokakarya tersebut bukan hanya ruang diskusi, melainkan harus menjadi wadah untuk melahirkan aksi nyata dan rencana kerja yang terukur.
“Forum ini jangan hanya berakhir pada laporan atau rekomendasi. Harapan kami, ada kesepakatan aksi dengan target yang jelas, langkah yang terstruktur, dan tanggung jawab yang terdistribusi,” tambahnya.
Menurutnya, penataan kawasan permukiman merupakan wujud penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia.
“Menata kawasan berarti menata kehidupan. Rumah yang layak, lingkungan yang sehat, dan akses terhadap kebutuhan dasar adalah hak setiap warga. Dan itu merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Ignasius.
Ia pun mengajak seluruh peserta untuk menjadikan forum tersebut sebagai ruang belajar bersama dan penguatan komitmen lintas sektor.
“Jangan biarkan kawasan pesisir terus dicap sebagai wilayah kumuh. Mari kita jadikan pesisir sebagai halaman depan Kota Kupang yang tertata, sehat, dan membanggakan,” ujarnya menutup sambutan.
Sementara itu, Ketua Panitia Lokakarya, Debby Panie, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan kawasan permukiman kumuh di pesisir Kota Kupang dari berbagai aspek.
“Mulai dari aspek sosial budaya, kelembagaan, infrastruktur dasar, hingga isu lingkungan seperti mitigasi risiko bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, lokakarya ini juga menganalisis dampak multidimensional dari keberadaan kawasan kumuh terhadap kehidupan masyarakat dan ekosistem pesisir.
“Dari hasil identifikasi dan analisis tersebut, akan dirumuskan solusi serta strategi penataan kawasan kumuh secara terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Lokakarya ini diikuti oleh sekitar 40 peserta, yang terdiri dari peneliti, perencana daerah, camat dan lurah wilayah pesisir, tokoh masyarakat, LSM, perwakilan warga kawasan kumuh, serta media.














