57 Siswa SMAS Sint Carolus Kupang Ikuti Ujian KTI Selama Empat Hari

Dorong literasi akademik, SMAS Sint Carolus Kupang terapkan ujian berbasis riset.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONALSMAS Katolik Sint Carolus Kupang melaksanakan ujian akhir sekolah berbasis Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlangsung pada 13–16 April 2026 di halaman sekolah.

“Pelaksanaan ujian sekolah merupakan ketetapan pemerintah sebagai bentuk evaluasi akhir yang menentukan kelulusan siswa,” ujar Kepala SMAS Katolik Sint Carolus Kupang, Romo Yasintus Efu, Pr., S.Fil., dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, di ruang kerjanya, Selasa, (14/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, bentuk ujian sekolah dapat berupa ujian tulis, portofolio, atau bentuk lain yang disepakati oleh pihak sekolah. Setelah melalui evaluasi dan pertimbangan dewan guru, sekolah memilih Karya Tulis Ilmiah sebagai bentuk ujian akhir, jelasnya.

Para siswa telah dibimbing oleh guru selama kurang lebih dua hingga tiga bulan sebelum ujian dilaksanakan. Setiap guru mendampingi sekitar tiga hingga empat siswa kelas XII, mulai dari penentuan tema hingga perumusan judul yang relevan dengan minat serta mata pelajaran yang dipilih. Materi KTI yang disusun merupakan pengembangan dari pembelajaran selama tiga tahun di sekolah, ujarnya.

Ujian KTI diikuti oleh 57 siswa. Setiap peserta diberikan waktu 45 menit untuk mempresentasikan sekaligus mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan tiga orang penguji yang terdiri dari guru pengawas.

Pelaksanaan ujian berlangsung selama empat hari, dari Senin hingga Kamis, dan terbagi dalam empat ruangan.

“Ujian ini bertujuan melatih siswa agar memiliki pemahaman dasar serta pengalaman dalam menulis karya ilmiah sebagai bekal di perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagi siswa yang tidak melanjutkan pendidikan, diharapkan tetap mampu mengomunikasikan dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang dimiliki di tengah masyarakat.

Adapun kriteria kelulusan mengacu pada panduan sekolah dan peraturan yang berlaku, yakni menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memiliki nilai sikap minimal baik, memperoleh nilai akademik minimal 80, serta nilai akhir yang merupakan gabungan dari nilai proses selama lima hingga enam semester dan nilai ujian KTI dengan bobot 40 persen, jelasnya.

Salah satu siswa, Teresia Olfiani Tamonob, menilai pelaksanaan ujian berbasis KTI memberikan pengalaman yang positif.

“Sangat baik, karena ini adalah ujian terakhir kami di sekolah dan berbasis karya tulis ilmiah,” ujarnya.

Ia mengangkat judul penelitian tentang “Efektivitas Pemberian Bubur Kacang Hijau terhadap Produksi ASI pada Ibu Menyusui di Posyandu Melati.”

“Saya ingin mengetahui kandungan gizi dalam kacang hijau, apakah berpengaruh terhadap produksi ASI atau tidak,” ujarnya.

Olive berharap dapat terus mengembangkan karya ilmiahnya ke depan. Ia juga berharap program ujian berbasis KTI tetap dipertahankan karena dinilai mampu melatih siswa sejak di bangku SMA sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi, ujarnya.

Sementara itu, siswa lainnya, Maria F.K. Bule, mengaku senang mengikuti ujian KTI karena dapat melatih kemampuan berbicara. “Saya merasa senang karena bisa melatih kemampuan berbicara,” ujarnya.

Ia mengangkat judul “Pemanfaatan Media Pembelajaran Audio-Visual dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika di SMAS Katolik Sint Carolus.”

“Menurut saya, masih banyak siswa yang kesulitan memahami konsep matematika. Hal ini terlihat dari rendahnya kemampuan numerasi,” ujarnya.

Menurut Yanti, diperlukan media pembelajaran yang lebih menarik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Ia berharap sekolah dapat terus mengembangkan metode pembelajaran agar pemahaman siswa, khususnya dalam matematika, semakin meningkat di masa mendatang, ujarnya.