Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Topik seputar bumi dan lingkungan hidup ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Pasalnya, pelbagai laporan menunjukkan krisis lingkungan hidup yang kian parah. Deforestasi, pemanasan global, peningkatan emisi karbon, pencemaran limbah industri, permasalahan sampah dan berbagai kasus lainnya turut menyumbang kerusakan lingkungan yang terjadi dewasa ini. World Economic Forum dalam laporannya pada 2025 lalu bahkan menekankan risiko lingkungan tertinggi dalam 10 tahun ke depan, di antaranya hilangnya keanekaragaman hayati dan kehancuran ekosistem.
Secara universal, komitmen menjaga dan memelihara keberlangsungan lingkungan hidup termaktub dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang mencakup 17 tujuan global dengan target pada 2030 mendatang. Salah satu fokus utama dalam SDGs ialah soal lingkungan. Sejumlah poin tujuan yang berhubungan dengan lingkungan antara lain Air Bersih dan Sanitasi; Energi Bersih dan Terjangkau; Penanganan Perubahan Iklim; Ekosistem Laut; dan Ekosistem Darat.
Sebagai bentuk keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan sekaligus upaya meningkatkan edukasi sosial tentang lingkungan, maka Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson mencetuskan peringatan Hari Bumi pada 22 April 1970. Dua dekade kemudian, peringatan tersebut mulai menyebar secara global hingga saat ini.
Kepada Radio TIRILOLOK, sejumlah orang muda NTT dari berbagai latar belakang, berbagi pesan inspiratif bagi generasi muda lainnya untuk turut terlibat dalam upaya menyelamatkan bumi dan lingkungan hidup.
Monica Bataona, leader Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Flores Timur – sebuah kelompok masyarakat yang dibentuk untuk membantu mengawasi sumber daya kelautan dan perikanan – mengajak segenap kawula muda di seluruh tanah air, khususnya di NTT untuk menciptakan aksi yang lebih nyata dalam menjaga bumi demi keberlanjutan hidup pada masa mendatang.
Ia mendorong setiap orang muda untuk berani melakonkan aksi kecilnya masing-masing, dengan mengembangkan passion dan bakatnya sebagai langkah kontribusi nyata kepada bumi tercinta. Baginya, pengembangan minat dan hobi generasi muda dapat dilakukan tanpa harus merusak bumi. Ia mengundang lebih banyak orang muda untuk bergotong royong bersama-sama menyelamatkan bumi dan lingkungan hidup demi generasi yang akan datang.
Hal senada disampaikan oleh Ketua JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation) Fraters Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Fr. Edit Dita, SVD. Ia memaknai pelestarian bumi sebagai usaha bersama, yang dapat diawali lewat hal-hal sederhana, semisal dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tak berhenti sampai di situ, ia menegaskan pentingnya saling mengingatkan antar sesama dan berani bersuara untuk membangkitkan kesadaran kolektif. Ia menyoroti bahwa bumi yang saat ini menjadi kediaman manusia, bukan hanya warisan dari para pendahulu, tetapi juga adalah titipan yang akan diteruskan pada anak – cucu nanti.
Sementara itu, Inol Lewokeda, seorang pengelola Bank Sampah di Sulamu – Kabupaten Kupang, menggarisbawahi upaya perubahan sebagai sumbangsih untuk merawat bumi, harus dimulai dari diri sendiri. Ia membagikan praktik baik yang telah dilakukannya selama beberapa bulan terakhir, antara lain beralih menggunakan pembalut kain, membatasi penggunakan plastik dengan membawa kantong belanja pribadi, dan memanfaatkan tumbler ketimbang botol plastik.
Dalam konteks pengelolaan Bank Sampah, Inol melihat sampah bukan sebagai sebuah masalah, melainkan peluang. Melalui sistem pengelolaan tersebut, Inol merasa bahwa kehadiran Bank Sampah tidak hanya berdampak bagi lingkungan, namun juga mendatangkan keuntungan ekonomis.
Kendati demikian, ia menyadari bahwa ia masih memiliki tugas yang cukup menantang, yakni membangkitkan dan menghidupkan kesadaran masyarakat setempat agar semakin banyak orang yang terlibat dalam kerja kolaboratif untuk menyelamatkan lingkungan. Kepada generasi muda lainnya, ia berpesan agar tidak ragu untuk memulai langkah kecil setiap hari, mengingat generasi muda memiliki peran yang sangat besar untuk mencapai perubahan.
Ia berharap agar semakin banyak orang muda yang bergerak dan menyebarkan inspirasi bagi yang lain. Ia memaknai Hari Bumi sebagai pengingat bahwa bumi membutuhkan perhatian sekarang, bukan nanti. Ia pun menekankan bahwa setiap kita tidak perlu menjadi ahli lingkungan, untuk dapat berpartisipasi dalam upaya menjaga bumi.
Di sisi lain, seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Bernadetha Elfince, menyerukan bahwa generasi muda hari ini tidak perlu menunggu sampai memegang jabatan atau kekuasaan tertentu, untuk mulai peduli pada bumi dan lingkungan. Menurutnya, bumi ini dijaga dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari, dengan cara membuang sampah, menggunakan air, memilih apa yang dikonsumsi, sampai pilihan anak muda untuk bersuara.
Ia mendorong orang muda untuk tidak melihat kepedulian sebagai sebuah tren semata, melainkan tanggung jawab besar terhadap bumi. Bagi Ell – sapaan akrabnya – menyelamatkan bumi harus beranjak dari konsistensi untuk melakukan hal-hal baik dan nyata, ketimbang bertumpu pada niat besar yang tak pernah terlaksana.
Adapun peringatan Hari Bumi tahun 2026 bertema “Our Power, Our Planet” yang berarti “Kekuatan Kita, Planet Kita.”














