Lewoleba, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang (STIPAS KAK), institusi pendidikan tinggi yang fokus mencetak tenaga pendidik agama Katolik dan katekis, telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan iman umat katolik di wilayah Keuskupan Agung Kupang secara khusus, dan Provinsi NTT secara umum.
Tahun ini, STIPAS KAK akan merayakan Dies Natalis ke – 25. Untuk itu, aneka kegiatan diberlangsungkan guna menyongsong perayaan tersebut, di antaranya pelaksanaan Live-In di wilayah pastoral Gereja Katolik Paroki St. Laurensius Hadakewa, Lembata pada 16-21/04/2026.
Dalam wawancara bersama Radio Tirilolok pada Jumat (24/4/2026), Ketua Panitia Live-In, Yohanes Gualbert Chavin Putra Pani mengatakan bahwa tujuan penyelenggaraan Live-In tersebut selain sebagai agenda menjelang Dies Natalis, namun juga menjadi ruang bagi para mahasiswa/i STPAS KAK untuk terlibat secara langsung dalam kehidupan umat, agar mampu mengidentifikasi persoalan pastoral di lapangan dan sebagai ajang untuk mempromosikan keberadaan STIPAS KAK kepada masyarakat secara lebih luas.
Chavin – sapaan akrabnya – menyebut, sebanyak 119 mahasiswa/i dari Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik semester 6 bersama 5 pendamping bertolak dari Kupang menuju Lembata dengan misi pastoral yang dibawa. Usai diterima melalui seremonial adat oleh umat setempat, para peserta Live-In mulai mengeksekusi program kegiatan mereka.
Pada hari pertama, dilaksanakan pelatihan bagi Putra-Putri Altar (Misdinar) sesuai Tata Perayaan Ekaristi (TPE) terbaru, pendampingan bagi anak-anak SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) berdasarkan panduan yang diberikan oleh KMKI (Karya Misi Kepausan Indonesia), bakti sosial dengan membersihkan lingkungan, dan ibadah Rosario.
Keesokan harinya, diselenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam format sosialisasi bertema “Pola Asuh Permisif Terhadap Perkembangan Anak” yang disampaikan oleh dosen STIPAS KAK, yakni Emilia Dolorosa Taek, S.Ag., M.M dan RD Aloysius Enga Monteiro, S. Ag., M.Psi. Selepas itu, berlangsung pertandingan persahabatan antara tim kesebelasan STIPAS KAK melawan tim Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Hadakewa, yang kemudian dilanjutkan dengan katekese bersama
Pada hari ketiga, diadakan Temu Alumni se – Kabupaten Lembata yang dibuka secara resmi oleh Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, S.P. Dalam momentum itu, para alumni membagikan pengalaman keterlibatan dalam pelayanan pastoral bersama umat sekaligus mengutarakan sejumlah aspirasi bagi perkembangan STIPAS KAK ke depan. Selanjutnya, para peserta Live-In disebarkan ke 12 stasi di wilayah Paroki St. Laurensius Hadakewa untuk memaknai perjumpaan pastoral bersama para umat.
Ke-12 stasi tersebut yakni Stasi St. Yohanes Pemandi Hidalabi, St. Petrus dan Paulus Nubalolo, St. Yoseph Ilewutung, St. Petrus Lewolein, St. Darius Tapolangu, St. Xaverius Tapobaran, St. Wilhelmus Leramatan, St. Fransiskus Asisi Lerahinga, St. Salib Suci Merdeka, St. Stefanus Tanahtreket, St. Laurensius Hadakewa, dan Stasi St. Wilhelmus Dangalangu yang berjarak 30 kilometer dari pusat paroki. Chavin menjelaskan, seluruh peserta yang telah diutus ke masing-masing stasi melebur dalam aktivitas pastoral umat, termasuk melakukan sejumlah sosialisasi dan pendampingan pada hari keempat.
Hari berikutnya, STIPAS KAK berkolaborasi bersama OMK setempat menggelar pementasan seni sebagai panggung kreativitas dalam merayakan kekayaan seni dan budaya masyarakat. Lalu pada hari terakhir, dilangsungkan Malam Perpisahan bersama umat yang menandai berakhirnya kegiatan Live-In tersebut.
Lebih lanjut, Chavin memaparkan berbagai tantangan pastoral yang ditemui selama pelaksanaan Live-In, antara lain kondisi geografis yang tidak memungkinkan umat memperoleh pelayanan pastoral secara rutin, dan keterbatasan akses informasi tentang kebaharuan tertentu dalam gereja, seperti TPE dan panduan dari KMKI.
Kendati demikian, Chavin menilai antusiasme umat sebagai sebuah apresiasi akan kehadiran STIPAS KAK yang meski pun hanya berlangsung singkat, namun dirasa cukup memberikan dampak yang baik. Menariknya, dalam beberapa perbincangan bersama warga Muslim di area pesisir, ia mendapati reaksi dan dukungan positif yang mengharapkan agar ke depan, kegiatan STIPAS KAK juga dapat umat Muslim di sana. Baginya, pengalaman perjumpaan itu menjadi inspirasi yang memperkaya realitas pelayanan pastoralnya secara pribadi maupun bagi peserta lainnya.
Selaku Ketua Panitia, ia berharap bahwa melalui kegiatan Live-In yang telah dilakukan oleh STIPAS KAK, dapat membantu umat Paroki Hadakewa untuk semakin bertumbuh dalam iman, seraya mengharapkan agar pelayanan pastoral kepada seluruh umat dapat semakin optimal demi menjawabi kerinduan umat akan kehadiran Allah.
Menutup pernyataannya, Chavin mendorong agar lebih banyak pihak yang melibatkan diri dalam karya pastoral, baik katekis, seminaris, biarawan/ti maupun umat awam pada umumnya.














